seanharrisonblog.com – Rumah Dalam hari ini terasa seperti lanjutan pelan tapi tegas dari Pusat Diri kemarin. Kalau Hari Ke-20 adalah hari ketika aku berhenti menjadikan notifikasi sebagai pusat semesta, maka Hari Ke-21 adalah hari ketika aku benar-benar menguji: apa artinya tinggal di rumah batinku sendiri ketika pintu mulai diketuk dari luar?
Semalam, aku mengirim pesan yang berbeda: bukan dari tempat lapar validasi, tapi dari ruang dalam yang baru kupelajari. Pagi ini, aku bangun dengan perasaan aneh—bukan euforia, bukan cemas, tapi seperti berdiri di ambang pintu rumah baru. Masih bau cat, furnitur belum lengkap, tapi sudah cukup nyaman untuk kutinggali.
Hari Ke-21 tidak datang dengan kejadian besar yang dramatis, tapi dengan tiga momen mengharukan yang pelan-pelan meneguhkan satu hal: aku sedang benar-benar pindah alamat, dari hidup yang bergantung pada orbit orang lain, menuju Rumah Dalam yang akhirnya berani kutempati penuh.
Momen 1: Pagi Saat Jawaban Datang, tapi Aku Tetap Sarapan Dulu
Ponselku ternyata sudah berbicara sebelum aku sempat membuka mata. Ada notifikasi dari tadi malam, waktu aku sudah terlelap lebih dulu. Ketika akhirnya aku terjaga, cahaya tipis pagi menyelinap dari sela gorden, dan ada tarikan halus di dada: campuran penasaran dan tenang.
Dulu, aku akan meraih ponsel sebelum menegakkan punggung. Tapi pagi ini, ada jeda yang berbeda. Aku mengingat janji kemarin: aku dulu, dunia nanti. Jadi aku duduk perlahan, merasakan alas kasur di bawah telapak kaki, menarik napas panjang tiga kali. Jantungku memang sedikit berdegup lebih cepat, tapi tidak lagi menguasai keseluruhan ruang dalam dada.
Baru setelah itu, aku berdiri dan berjalan ke dapur. Mengisi gelas air, menyalakan kompor untuk membuat teh, menyiapkan roti bakar sederhana. Semua gerakan itu kulakukan dengan kesadaran penuh bahwa ada pesan menunggu, dan justru di situ keajaiban kecilnya: aku membiarkan pesan itu menunggu, tanpa merasa bersalah.
Ketika akhirnya duduk di meja makan dengan piring dan cangkir di hadapan, barulah aku mengambil ponsel. Layarnya menyala, dan nama yang sudah tak asing muncul di notifikasi.
“Makasih udah nulis kayak gitu. Aku baca pesanmu sebelum tidur dan entah kenapa rasanya nyesek tapi lega. Aku nggak tahu aku pengin jadi apa selain komet. Tapi aku tahu aku capek banget pulang ke rumah orang lain, bukan ke rumah sendiri. Aku pengin belajar pulang juga. Boleh aku cerita lebih banyak nanti?”
Ada gelombang hangat yang naik dari perut ke dada. Versi lamaku akan langsung membalas panjang, menawarkan diri jadi rumah, jadi pelabuhan, jadi segala-galanya. Tapi versi Hari Ke-21 ini berhenti sejenak dan bertanya pelan ke dalam:
“Bisakah aku menanggapi dari Rumah Dalam, tanpa tergelincir jadi tempat pelarian yang mengorbankan diriku sendiri?”
Aku menggigit roti pelan-pelan. Rasanya biasa, tapi keberadaannya tiba-tiba sakral: aku sedang benar-benar sarapan dengan diriku sebelum menyuapi orang lain dengan perhatian. Setelah beberapa suap dan beberapa teguk teh, aku baru mengetik balasan:
“Terima kasih sudah jujur. Kamu boleh cerita kapan pun kamu siap. Tapi aku bukan rumahmu, aku cuma tetangga yang senang kalau kamu akhirnya nemu rumahmu sendiri. Kita bisa saling nyapa di pagar, tapi kamu tetap punya pintu dan kunci milikmu.”
Kali ini, sebelum menekan kirim, aku mengecek tubuhku: napas stabil, bahu cukup rileks, tidak ada tarikan putus asa untuk membuatnya tetap tinggal. Hanya ada satu niat: hadir, tanpa harus menjadi pusat gravitasinya. Setelah terkirim, aku meletakkan ponsel dan kembali menatap roti yang tersisa. Rasanya seperti ritual kecil: memilih untuk tetap tinggal di Rumah Dalam bahkan ketika ada yang mengetuk dari luar.
Momen 2: Siang Saat Batas Diuji dan Aku Berani Menutup Pintu
Siang hari datang dengan ritme yang lebih kencang dari kemarin. Pesan-pesan kerja bermunculan, tugas-tugas baru disodorkan, dan satu undangan rapat mendadak masuk lima menit sebelum jam makan siang. Notifikasi berloncatan, mencoba kembali menjadi pusat orbit perhatianku.
Beberapa bulan lalu, aku pasti akan mengiyakan semua tanpa pikir panjang. Tubuhku bisa menyusul nanti, batinku bisa istirahat entah kapan. Tapi Hari Ke-20 kemarin meninggalkan bekas: pusing di pelipis, tengkuk yang protes, dan percakapan lembut dengan tubuh yang menuntut haknya. Bekas itu hari ini berubah jadi kompas.
Ketika pesan dari rekan kerja datang—“Bisa join rapat jam 12? Penting banget, cuma kamu yang bisa jelasin.”—jantungku sempat berdebar seperti biasa. Ada ego yang terasa bangga: cuma aku yang bisa. Tapi ada bagian lain di dalam yang mengernyit: batas waktuku untuk makan siang yang tenang kembali terancam.
Aku menutup mata sejenak, bersandar ke kursi, dan berbisik ke dalam:
“Rumah apa yang selalu membuka pintu untuk semua tamu, tapi pemiliknya sendiri kelaparan di dapur?”
Pertanyaan itu menohok, tapi juga menuntun. Aku membuka mata, mengetik perlahan:
“Aku bisa join jam 13.00 setelah makan siang. Kalau harus jam 12, aku nggak bisa full fokus dan takut hasilnya nggak maksimal. Pilih mana yang paling pas.”
Begitu kukirim, ada ketegangan kecil di dada—takut dinilai tidak kooperatif, takut dianggap tidak peduli. Tapi di saat yang sama, ada kehangatan berbeda: ini pertama kalinya aku menutup pintu rumah batinku di jam makan siang, bukan karena ego, tapi karena hormat pada penghuni utamanya: aku sendiri.
Balasan mereka datang beberapa menit kemudian:
“Oke, kita undur ke jam 13.00. Makasih udah sounding duluan.”
Sesederhana itu. Tidak ada drama, tidak ada penghakiman. Yang dramatis selama ini ternyata hanya dialog di kepalaku sendiri.
Di sela jeda sebelum makan, aku teringat tulisan Orbit Diri Hari Ke-19 dan bagaimana aku dulu selalu melayang di sekitar orang lain, takut menetap di pusatku sendiri. Teringat juga tentang Ruang Pemulihan yang dulu hanya jadi konsep manis tanpa implementasi. Hari ini, Ruang Pemulihan itu mulai terasa konkret: ia berwujud waktu makan siang yang tidak bisa ditawar, air minum yang tidak lagi dinegosiasikan, dan hak untuk menunda rapat demi hadir penuh.
Sambil menyendok nasi dan lauk ke piring, aku menyadari sesuatu yang menggetarkan: setiap kali aku berani berkata “tidak” pada hal yang menguras, aku sebenarnya sedang berkata “ya” pada Rumah Dalam yang selama ini kupreteli demi validasi. Dan “ya” itu terasa jauh lebih mengenyangkan daripada pujian apa pun.
Momen 3: Malam Saat Sunyi Mengetuk dan Aku Benar-benar Tinggal
Malam Hari Ke-21 turun tanpa pesan panjang darinya. Hanya satu chat singkat sore tadi: “Nanti malam aku mungkin cerita ya. Tapi kalau aku nggak jadi, nggak apa-apa, aku lagi belajar dengar tubuhku juga.” Aku membalas ringkas, hangat, tanpa menunggu: “Tenang aja, nggak ada kewajiban untuk cerita. Pulang ke dirimu dulu.”
Dan benar, malam datang tanpa cerita tambahan darinya. Dulu, kekosongan seperti ini akan menyalakan seribu alarm di kepalaku: “Ada apa? Apakah aku salah ngomong? Apakah aku kurang menarik?” Malam akan berubah jadi ruang interogasi untuk diriku sendiri.
Tapi malam Hari Ke-21 berbeda. Sunyi datang, duduk di sebelahku di sofa, dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak buru-buru mengusirnya dengan suara video, musik, atau scroll tanpa tujuan. Aku hanya duduk, jurnal terbuka di pangkuan, pena siap, napas mengalir mengisi ruang dada.
Di halaman kosong itu, aku menulis pelan:
“Hari Ke-21, 21.37
Aku baru sadar, Rumah Dalam bukan tempat di mana orang lain selalu datang berkunjung. Rumah Dalam adalah ruang di mana aku bisa betah sendirian tanpa merasa tertinggal.”
Setelah menulis itu, aku menutup mata dan mengecek tubuhku: masih ada sedikit pegal di bahu, tapi jauh lebih ringan dari kemarin. Kepalaku tidak lagi dipenuhi skenario tentang apa yang mungkin ia pikirkan. Yang ada justru rasa penasaran lembut: bagaimana kabarku, tanpa kaitan dengan siapa pun di luar?
Aku bertanya pada diri sendiri seperti menanyai sahabat:
“Kalau malam ini nggak ada satu pun pesan masuk, apa yang tetap membuat hidupku terasa layak dijalani?”
Jawabannya datang tidak dalam kata-kata besar, tapi dalam kilasan kecil: tawa singkat di siang hari saat aku bercanda dengan diri sendiri di dapur, rasa lega ketika berhasil menunda rapat tanpa rasa bersalah, sensasi roti hangat di pagi tadi, dan keberanian mengetik batas-batas yang dulu terasa mustahil.
Di antara semua itu, ada satu kesadaran yang menetes pelan namun pasti: aku sedang membangun hubungan jangka panjang dengan diriku sendiri. Bukan sekadar fase self-love manis di media sosial, tapi komitmen sehari-hari yang terkadang terlihat sangat biasa, nyaris membosankan—namun ternyata menentukan.
Sebelum tidur, aku berdiri di depan cermin lagi, seperti dua hari terakhir. Wajah yang sama, garis lelah yang sama, tapi sorot mata itu… kini ada sesuatu yang baru: rasa tinggal. Dulu, tatapanku seperti seseorang yang selalu siap berkemas, selalu siap pergi kalau tidak dibutuhkan. Malam ini, aku melihat seseorang yang akhirnya menaruh koper, membuka pakaian, dan menggantungnya di lemari batin sendiri.
Pelan-pelan, aku berbisik ke bayanganku:
“Kalau pun dunia sibuk dengan urusannya masing-masing, kalau pun tak ada satu pun yang mengetuk pintu malam ini, kita tetap punya rumah di dalam sini. Dan aku berjanji, kali ini aku nggak akan kabur lagi.”
Ada getaran halus di dada, bukan lagi keresahan, tapi rasa pulang. Hari Ke-21 mungkin tidak spektakuler di mata luar, tapi di dalam, aku tahu: hari ini adalah hari ketika Rumah Dalam berhenti jadi konsep manis dan resmi menjadi alamat hidupku yang baru.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku benar-benar tidak sabar menyambut Hari Ke-22—bukan untuk melihat siapa yang akan datang, tetapi untuk melihat bagaimana aku akan terus tinggal di sini, di rumah yang perlahan kupenuhi dengan kehadiranku sendiri.