seanharrisonblog.com – Pusat Diri hari ini terasa seperti garis tipis antara kehampaan dan euforia. Setelah kemarin saya menggambar orbit dan berjanji tinggal di pusat, Hari Ke-20 datang bukan dengan kembang api besar, tapi dengan tiga getaran halus yang pelan-pelan mengubah arah hidup saya. Bukan cuma satu notifikasi, tapi tiga jenis getaran: di ponsel, di tubuh, dan di kedalaman jiwa yang biasanya saya abaikan.
Kalau Hari Ke-19 adalah tentang keberanian duduk di tengah orbit tanpa mengejar siapa pun, maka Hari Ke-20 adalah ujian: apakah saya benar-benar siap hidup dari dalam ke luar, atau saya akan tergoda kembali jadi satelit yang panik mencari pusat di luar diri?
Getaran 1: Pagi Tanpa Notifikasi, tapi Penuh Resonansi
Pagi Hari Ke-20 dimulai dengan keheningan yang nyaris identik dengan kemarin: layar ponsel tanpa pesan baru, terutama darinya. Bedanya, hari ini, dada saya tidak cuma tenang—ia seperti punya frekuensi baru. Ada rasa kosong, iya, tapi bukan kehampaan yang menelan; lebih seperti ruang kosong yang siap diisi dengan sesuatu yang saya pilih sendiri.
Saya duduk di tepi tempat tidur, ponsel masih tergeletak di meja. Biasanya, di momen seperti ini, saya akan otomatis mengecek status online, mengurai setiap tanda baca dari percakapan terakhir, memelintirnya jadi bukti betapa saya tidak cukup penting. Tapi pagi ini, ada kalimat yang muncul begitu saja di kepala saya:
“Kalau aku sudah mengaku jadi pusat, kenapa jadwal emosiku masih dikuasai oleh jam online orang lain?”
Kalimat itu menampar, tapi juga menyadarkan. Saya bangkit, berjalan ke cermin yang kemarin menjadi saksi saya berjanji untuk tetap tinggal. Wajah saya masih wajah yang sama, kantung mata belum sepenuhnya hilang, tapi ada sesuatu yang berbeda di sorot mata: ada ketegasan lembut di sana.
Saya menatap diri sendiri dan berkata pelan, setengah bercanda, setengah ritual:
“Selamat datang di Hari Ke-20. Kalau pun nggak ada yang ngetuk pintu hari ini, kita tetap punya rumah di dalam sini, kan?”
Dada saya hangat. Ada keharuan kecil, seperti anak kecil yang akhirnya percaya bahwa orang dewasa di hadapannya tidak akan pergi meninggalkan. Saya teringat tulisan saya tentang Orbit Diri dan bagaimana kemarin saya mulai menerima bahwa saya pantas menjadi pusat. Hari ini, Pusat Diri bukan lagi konsep di atas kertas; ia mulai terasa seperti otot yang pelan-pelan menguat.
Sebelum menyentuh ponsel, saya mengambil jurnal. Saya menulis singkat:
“Hari Ke-20, 08.03
Target hari ini: aku dulu, dunia nanti. Bukan egois, tapi pulang dulu ke rumah sebelum jadi tamu di hidup orang lain.”
Baru setelah itu saya mengizinkan diri melihat ponsel. Masih tidak ada pesan. Anehnya, saya tidak merasa ditolak; saya hanya merasa diberi ruang untuk memilih: apakah aku mau mengisi pagi ini dengan menunggu, atau dengan hidup?
Getaran 2: Siang Saat Tubuh Menggugat dan Luka Lama Muncul
Menjelang siang, saya kembali tenggelam dalam pekerjaan. Email, dokumen, agenda rapat—semuanya berputar kencang, dan tanpa sadar saya tersedot kembali ke pola lama: melupakan tubuh, hanya fokus pada tugas. Tangan saya mengetik cepat, bahu menegang, napas jadi pendek.
Sampai tiba-tiba, ada getaran lain yang lebih halus dari notifikasi: pusing ringan di pelipis, dan nyeri tumpul di tengkuk. Tubuh saya seperti berkata pelan, tapi tegas: “Hei, kamu janji apa kemarin?”
Saya berhenti mengetik. Jari menggantung di atas keyboard, napas tertahan. Saya baru sadar, saya sudah duduk hampir dua jam tanpa jeda, tanpa air minum, tanpa sekadar berdiri. Pusat Diri yang saya banggakan tadi pagi mendadak terasa rapuh; saya masih mudah tergelincir ke autopilot yang mengabaikan tubuh seolah ia sekadar kendaraan pakai-buang.
Di titik itu, refleks lama muncul: suara dalam kepala yang sinis berbisik, “Ya udah sih, tahan bentar. Nanti juga selesai. Produktif dulu, sehat belakangan.”
Tapi ada suara baru yang tidak mau diam. Suara yang kemarin muncul ketika saya berbaring di lantai dan mendengarkan napas sendiri. Suara yang saya kenali sebagai sumbu dari Ruang Pemulihan yang dulu saya tulis tapi jarang benar-benar saya jalani.
Suara itu berkata pelan, tapi penuh wibawa:
“Kalau kamu benar-benar pusat hidupmu, kenapa keputusan dasar seperti minum, istirahat, dan bernapas harus menunggu izin dari to-do list?”
Saya menutup laptop perlahan, berdiri, dan berjalan ke dapur. Mengisi gelas dengan air dingin, menatap pantulan samar diri sendiri di permukaan kaca jendela. Tangan saya sedikit gemetar, bukan karena lelah saja, tapi karena saya sadar: saya sudah begitu terbiasa mengkhianati tubuh demi ekspektasi orang lain, sampai tindakan sesederhana minum terasa seperti tindakan revolusioner.
Sambil meneguk air, saya tiba-tiba teringat satu momen lama: malam bertahun-tahun lalu ketika saya begadang mengerjakan sesuatu demi orang yang bahkan sekarang sudah tidak ada di hidup saya. Saya ingat rasa jantung berdebar, tangan dingin, tapi saya tetap memaksa. Di dalam benak saya, ada kalimat: “Kalau aku cukup berguna, mungkin aku cukup layak untuk dipertahankan.”
Ingatan itu menohok. Di siang hari yang biasa-biasa saja, saya melihat pola lama saya dengan sangat jelas: saya sering menjadikan produktivitas sebagai mata uang cinta. Tidak heran tubuh saya sering merasa seperti buruh kontrak tanpa kontrak tertulis.
Di dapur itu, saya mengangkat tangan dan menyentuh tengkuk sendiri, memijat pelan. Saya berbisik, kali ini bukan ke cermin, tapi langsung ke tubuh:
“Maaf, ya. Kamu sudah lama banget kerja lembur tanpa aku tanya apa kamu kuat. Mulai hari ini, aku mau belajar jadi atasan yang manusiawi buatmu.”
Rasanya absurd, tapi hangat. Ada air yang tiba-tiba menggenang di sudut mata, bukan karena sedih saja, tapi karena ada bagian diri yang akhirnya merasa didengar. Pusing di pelipis belum hilang sepenuhnya, tapi intensitasnya berkurang, seperti tubuh berkata, “Oke, aku percaya kamu sedang berubah, pelan-pelan.”
Saya kembali ke meja kerja, tapi kali ini dengan keputusan baru: setiap satu jam, saya akan berhenti sebentar—minum, meregangkan badan, atau sekadar menarik napas panjang. Bukan sebagai teknik produktivitas, tetapi sebagai tanda hormat pada Pusat Diri saya: tubuh dan napas yang selama ini saya anggap remeh.
Getaran 3: Malam Saat Pesan Datang, tapi Aku Tak Lagi Lapar
Malam turun perlahan, membawa bayangan dan suara-suara kecil dari luar jendela. Saya duduk di meja, jurnal terbuka, tapi pena saya berhenti di tengah kalimat. Ada rasa aneh di dada: campuran rindu dan tenang yang tidak berlebihan.
Ponsel saya berbaring di sebelah jurnal, layar menghadap ke bawah seperti kemarin. Kali ini, saya tidak sedang menahan diri; saya hanya benar-benar sedang sibuk menulis untuk diri sendiri. Saya sedang menuliskan hal-hal kecil yang saya lakukan hari ini: minum air tepat waktu, berhenti sejenak ketika tubuh protes, menolak satu permintaan tambahan dari rekan kerja dengan sopan karena saya tahu kapasitas saya sudah penuh.
Di tengah kalimat, ponsel itu bergetar pelan.
Getaran tunggal—tidak panjang, tidak berulang, tapi cukup untuk membuat kesadaran saya menoleh. Beberapa bulan lalu, getaran seperti ini akan langsung menguasai tubuh saya: jantung berdegup lebih cepat, pikiran berlari duluan menyusun skenario. Malam ini, saya menutup mata sebentar dan bertanya pelan ke diri sendiri:
“Siapa yang sedang menulis pusat hidupku sekarang? Notifikasi atau aku?”
Saya menarik napas panjang, menyelesaikan kalimat terakhir di jurnal sebelum menutup buku. Baru setelah itu, saya meraih ponsel dan membaliknya.
Pesan darinya.
“Aku kepikiran terus soal planet dan komet yang kamu tulis kemarin. Hari ini aku ngerasa capek banget jadi komet yang semua orang kagumi pas lewat, tapi nggak ada yang bener-bener tahu aku tinggal di mana. Kamu hari ini gimana?”
Ada getaran halus di dada saya. Dulu, saya akan menjadikan momen seperti ini sebagai bukti bahwa doa saya terkabul, bahwa saya akhirnya “dipilih”. Tapi malam ini, ada kesadaran lain yang muncul lebih dulu:
Pesan ini penting, tapi bukan lebih penting dari janji saya ke diri sendiri.
Saya menaruh ponsel di pangkuan, menutup mata sebentar, dan mengecek tubuh saya: apakah saya lelah? Apakah saya lapar? Apakah saya masih punya energi jujur untuk membalas, atau hanya energi pura-pura supaya terlihat menarik?
Yang muncul justru rasa penuh yang tenang. Hari ini saya sudah memilih diri saya berkali-kali, dan akibatnya, saya merasa tidak lagi lapar akan validasi. Saya rindu, iya. Saya peduli, jelas. Tapi bukan dari tempat kekurangan; lebih dari tempat ingin berbagi.
Saya membuka chat dan mulai mengetik, pelan-pelan, dari Pusat Diri yang baru ini:
“Hari ini aku sibuk belajar jadi rumah buat tubuhku sendiri. Ternyata capek juga ya, selama ini kita sering maksa diri jadi pertunjukan kembang api buat orang lain. Aku senang kamu cerita soal lelahmu. Kalau kamu mau, kita bisa pelan-pelan cari tahu: kamu sebenarnya pengin jadi apa, selain komet yang lewat cepat? Planet, bulan, atau bahkan matahari buat hidupmu sendiri?”
Saya membaca ulang pesan itu sebelum menekan kirim. Tidak ada kalimat memaksa, tidak ada janji menyelamatkan, tidak ada upaya menjadikan diri saya pusat hidupnya. Hanya ajakan untuk sama-sama pulang ke pusat masing-masing.
Setelah terkirim, saya meletakkan ponsel di meja, kali ini layar menghadap ke atas. Kalau pun dia membalas, bagus. Kalau pun tidak, saya sudah melakukan sesuatu yang lebih penting: saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa mencintai tanpa mengkhianati Pusat Diri.
Malam itu, sebelum tidur, saya menatap langit gelap dari jendela. Tidak ada bintang jatuh, tidak ada pemandangan spektakuler. Hanya langit biasa, tenang, luas. Di dada saya, ada kalimat yang ingin saya abadikan:
“Hari Ke-20 layak diingat, bukan karena siapa yang mengirim pesan, tapi karena aku akhirnya berhenti menjadikan orang lain sebagai pusat gravitasi tunggal. Aku belajar bahwa Pusat Diri bukan tembok egois, tapi rumah yang kokoh, dari mana aku bisa mencintai dunia tanpa kehilangan diriku sendiri.”