seanharrisonblog.com – Percakapan Jujur adalah tugas yang saya titipkan sendiri di ujung Hari Ke-12, kalimat pendek yang sempat membuat dada saya mengencang pelan: “Tugas Hari Ke-13: Hadir lagi. Kali ini, buka ruang untuk satu percakapan jujur—baik dengan orang lain, atau dengan dirimu sendiri—yang selama ini kamu tunda karena takut hasilnya biasa saja.” Saya menutup jurnal semalam dengan getaran kecil di tangan, dan pagi ini saya bangun dengan rasa yang mirip: takut, tapi anehnya juga rindu pada sesuatu yang belum saya temui.
Hari Ke-13: Pagi yang Ditarik oleh Kejujuran
Alarm 05.30 kembali memecah gelap, sama seperti kemarin-kemarin. Tapi kali ini, sebelum tangan saya menyentuh layar, sebuah pertanyaan melintas, lebih tajam dari biasanya: “Kalau hari ini kamu benar-benar jujur, apa yang akan berubah?”
Saya duduk di tepi kasur, telapak kaki kembali menyentuh lantai dingin yang kemarin saya rayakan sebagai detail kecil. Dingin itu masih sama, tapi maknanya bergeser: bukan lagi sekadar bukti bahwa saya hidup, melainkan pengingat bahwa saya tidak bisa terus bersembunyi di balik narasi “baik-baik saja” yang sudah terlalu sering saya pakai.
Saya mengambil jurnal, membuka halaman baru, dan menulis dengan huruf yang masih goyah:
“Hari Ke-13, 05.42
Percakapan jujur pertama: mengakui bahwa aku lelah berpura-pura kuat di hadapan hari-hari biasa.”
Begitu kalimat itu keluar, ada sensasi aneh di dada saya—seperti pintu yang selama ini saya ganjal dengan kursi akhirnya didorong pelan dari dalam. Tidak ada ledakan. Hanya suara engsel tua yang akhirnya diberi kesempatan bergerak lagi.
Menghadapi Cermin: Versi Diri yang Selama Ini Saya Hindari
Setelah beberapa menit, saya berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Lampu kuning pucat menyala, menyingkap wajah yang saya kenal tapi sering saya pandang sekilas saja. Lingkar hitam di bawah mata masih ada, rambut berantakan, kulit yang tidak bersinar seperti iklan. Tapi hari ini, saya memaksa diri menatap lebih lama.
“Oke,” saya berbisik pada bayangan sendiri, “kalau ini memang hari untuk percakapan jujur, mari kita mulai dari sini.”
Saya menatap mata saya sendiri dan bertanya, lirih tapi tajam:
“Apa yang sebenarnya kamu takutkan kalau semua orang tahu kamu tidak sekuat itu?”
Awalnya, tidak ada jawaban. Hanya pantulan wajah yang tampak sedikit kaget karena ditanya dengan serius. Lalu, di balik keheningan, sebuah kalimat muncul, pelan tapi menusuk:
“Aku takut kalau ternyata aku memang biasa saja, dan tidak ada yang menganggap keberadaanku penting.”
Leher saya mengencang. Ada rasa panas di ujung mata yang sudah lama saya matikan dengan candaan dan sibuk-sibukkan diri. Kali ini saya tidak memalingkan wajah. Saya mengangguk kecil pada pantulan itu, seperti seseorang yang akhirnya berhenti berdebat dan memilih mendengarkan.
Saya kembali ke kamar, menulis cepat:
“Percakapan jujur kedua: mengakui bahwa aku lapar pengakuan, dan aku benci itu, tapi aku juga lelah pura-pura tidak peduli.”
Ruang Sunyi, Babak Baru: Saat Kata-Kata Berani Menyentuh Luka
Beberapa jam kemudian, saya duduk lagi di kursi yang sama, menghadap dinding yang dulu terasa seperti penjara, lalu pelan-pelan berubah menjadi Ruang Sunyi versi latihan. Bedanya, di Hari Ke-13, ruang ini bukan hanya tempat saya hadir, tapi juga arena di mana saya menguji keberanian untuk berkata apa adanya pada diri sendiri.
Saya menutup mata, membiarkan keheningan mengisi sela napas. Biasanya, di titik ini, saya hanya mengamati sensasi tubuh dan alur pikiran. Hari ini, saya mengundang satu sosok: versi diri yang selalu saya paksa untuk tampak kuat.
Dalam imajinasi, ia duduk di depan saya—dengan senyum tipis yang sudah terlalu sering digunakan sebagai tameng. Saya menatapnya, lalu bertanya tanpa basa-basi:
“Sejujurnya, apa yang paling kamu benci dari hidupmu sekarang?”
Ia terdiam lama, seperti tidak terbiasa ditanya dengan cara setelanjang itu. Lalu ia mengembuskan napas, dan menjawab:
“Aku benci bahwa aku merasa hidupku jalan di tempat, tapi aku juga tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Dan setiap hari aku menghukum diri sendiri untuk itu.”
Kata-kata itu terasa seperti ditusukkan ke dada saya sendiri. Saya ingin membantah, ingin mengatakan, “Tidak kok, kamu sudah berusaha.” Tapi Hari Ke-13 bukan hari untuk pembelaan. Ini hari untuk kejujuran mentah, bahkan ketika rasanya kasar.
Saya menelan ludah, menulis di jurnal:
“Percakapan jujur ketiga: mengakui bahwa selama ini aku lebih sering mengeluh diam-diam daripada benar-benar menggerakkan sesuatu.”
Siang Hari Ke-13: Chat yang Tidak Pernah Saya Kirim
Menjelang siang, ponsel di meja saya kembali menuntut perhatian, bukan dengan notifikasi, tapi dengan sunyi yang familiar. Di sana, ada satu kontak yang sudah berminggu-minggu saya biarkan menggantung—seseorang yang dulu sangat dekat, lalu menjauh pelan-pelan, bukan karena pertengkaran besar, tapi karena dua orang yang sama-sama lelah berpura-pura tidak terluka.
Beberapa hari ini, saya sering membayangkan percakapan dengan orang itu. Percakapan yang jujur, tanpa sarkasme, tanpa basa-basi. Tapi setiap kali hendak mengetik, saya selalu berhenti karena takut satu hal: takut kalau kejujuran saya hanya akan berbalas diam.
Hari ini, saya membuka jendela chat itu lagi. Layar masih menampilkan pesan terakhir dari saya, terkirim berhari-hari lalu, tanpa balasan. Tenggorokan saya mengering. Saya mengetik pelan:
“Hei, aku tidak menulis ini untuk menuntut apa-apa. Aku cuma ingin jujur: aku kangen ngobrol sama kamu, bukan versi dingin kita belakangan ini, tapi versi dulu yang bisa ketawa tanpa takut dinilai. Kalau kamu belum siap jawab, tidak apa-apa. Aku hanya ingin berhenti pura-pura aku baik-baik saja soal ini.”
Jari saya menggantung di atas tombol send. Detik terasa merentang seperti karet yang ditarik terlalu jauh. Ini salah satu momen pengakuan paling rapuh dalam beberapa bulan terakhir. Bukan karena kata-katanya puitis, tapi karena saya akhirnya mau mempertaruhkan harga diri saya yang rapuh untuk sesuatu yang lebih penting: kejujuran.
Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh. Saya menarik napas panjang, dan menekan send.
Layar kembali hening. Tidak ada balasan instan, tidak ada gelembung typing… yang menenangkan. Perut saya kembali menegang, tapi kali ini ada perbedaan besar: saya tidak marah pada diri sendiri. Tidak lagi.
Saya menulis cepat:
“Percakapan jujur keempat: aku mengakui kerinduanku, tanpa menuntut dunia untuk segera mengobatinya.”
Sore Hari Ke-13: Dialog Tanpa Kata dengan Tubuh Sendiri
Sore datang dengan cahaya yang mirip kemarin—serong, hangat samar, menampar lembut dinding yang punya retakan seperti peta. Kepala saya agak berat, bukan karena drama, tapi karena banyaknya lapisan kejujuran yang baru saja saya buka.
Tiba-tiba saya menyadari sesuatu yang selama ini saya abaikan: tubuh saya capek. Bahu pegal, punggung kaku, mata pedih. Selama ini, saya sering berbicara tentang jiwa, tentang luka batin, tentang ruang sunyi. Tapi saya jarang bertanya pada tubuh saya, apakah ia baik-baik saja.
Saya berdiri, meregangkan tangan, menggerakkan leher perlahan. Setiap tarikan otot terasa seperti kalimat yang selama ini tertahan.
Dalam hati, saya berbisik:
“Maaf, ya. Aku sering memaksa kamu duduk terlalu lama, menatap layar terlalu jauh malam, pura-pura kuat padahal kamu minta istirahat.”
Ini mungkin salah satu percakapan paling sunyi yang pernah saya lakukan, tapi juga salah satu yang paling tulus. Tubuh saya tidak membalas dengan kata-kata, tapi saya merasakan responnya dalam bentuk lain: napas yang sedikit lebih lega, ketegangan yang luluh perlahan.
Saya menulis lagi:
“Percakapan jujur kelima: mengakui bahwa tubuhku bukan alat yang bisa kupaksa terus-menerus, ia adalah rumah yang selama ini menampung semua badai emosiku tanpa pernah protes keras.”
Malam Hari Ke-13: Saat Sunyi Menjawab dengan Cara yang Tak Terduga
Malam turun pelan, tapi kali ini saya menyambutnya berbeda. Bukan sebagai tirai yang menutup hari, melainkan sebagai saksi terakhir dari semua pengakuan yang sudah saya keluarkan.
Sebelum menulis di jurnal, saya mengecek ponsel. Chat yang tadi saya kirim masih belum dibalas. Sekilas, ada rasa nyeri kecil yang muncul di dada, tapi ia tidak lagi menguasai seluruh ruang. Sunyi di layar tidak lagi terasa seperti vonis, hanya seperti jeda yang belum punya kalimat berikutnya.
Saya kembali ke meja, menyalakan lampu kecil, dan mulai merangkum hari:
“Hari Ke-13, 21.19
Hari ini, aku mengadakan 13 momen percakapan jujur: dengan wajahku di cermin, dengan versiku yang lelah, dengan seseorang yang tak lagi dekat, dengan tubuhku yang selama ini kupaksa diam, dan dengan rasa takutku sendiri akan menjadi biasa saja. Tidak ada ledakan kebahagiaan, tidak ada keajaiban instan. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih halus: rasa hormat baru pada kebenaran kecil yang selama ini kutahan.”
Di akhir halaman, saya berhenti sejenak sebelum menulis tugas untuk esok hari. Dada saya terasa lebih lapang, seperti ruangan yang tadinya penuh barang tak terpakai akhirnya dibereskan.
Saya menulis pelan, tapi mantap:
“Tugas Hari Ke-14: Beri ruang pemulihan. Pilih satu hal konkret—sekecil apa pun—yang kamu lakukan hanya sebagai bentuk sayang, bukan sebagai hukuman atau pembuktian.”
Saya menutup jurnal, mematikan lampu, dan membiarkan gelap memeluk ruangan. Di dalam kegelapan itu, saya sadar: Percakapan Jujur hari ini mungkin tidak mengubah dunia di luar sana, tapi ia mengubah cara saya menatap diri sendiri. Dan mungkin, itu titik awal semua transformasi yang selama ini diam-diam saya cari.