seanharrisonblog.com – Koordinat Pulang di Hari Ke-24 ini terasa seperti alarm halus yang terus menyala di latar belakang. Kemarin aku menemukan tombol pulang di telapak tangan dan dada; hari ini, semesta seperti sengaja menambah level permainan: mampukah aku menjaga rumah batin ketika semuanya serentak mengetuk? Bukan lagi sekadar rapat mendadak atau satu telepon larut malam, tapi serangkaian tarikan yang seolah-olah bersekongkol ingin menguji: “Benarkah kamu sudah tinggal di Alamat Baru, atau cuma numpang singgah?”
Pascagelombang Hari Ke-23: Lelah yang Mengendap di Subuh
Aku bangun dengan sisa berat di tubuh. Bukan lelah fisik yang dramatis, lebih seperti pasir halus yang mengendap di persendian. Telepon semalam memang tidak larut, tapi ada kelelahan emosional ringan—semacam hangover empati. Aku pernah menulis tentang ini di Ruang Pemulihan, tentang bagaimana mendengarkan orang lain kadang menarik sisa-sisa luka lama ke permukaan.
Di ranjang, untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit. Ada keinginan untuk kembali ke pola klasik: pura-pura baik-baik saja, langsung berdiri, mandi, lalu melempar diriku ke arus hari. Tapi ada juga suara baru yang kini mulai berani bicara lebih nyaring:
“Sebelum kamu pergi ke mana-mana, cek dulu: apakah rumahmu di dalam sudah menyala?”
Tanpa banyak retorika, tanganku refleks bergerak. Telapak kanan mendarat di dada kiri. Kali ini bukan sebagai eksperimen, melainkan sebagai ritual wajib. Aku menarik napas pelan, panjang. Di tengah sisa lelah, aku berbisik pada diri sendiri:
“Aku di sini. Aku nggak akan memaksamu hari ini. Kita pilih pelan-pelan.”
Ada momen hening. Di sela napas, muncul rasa haru tipis: untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku menyapa diriku sebelum menyapa dunia. Betapa banyak pagi yang dulu kuawali dengan notifikasi orang lain, bukan dengan suhu tubuhku sendiri.
Pagi: Godaan “Versi Lama” yang Ingin Balik Menyetir
Pukul 08.17, notifikasi mulai berdatangan. Pesan dari kantor, dari keluarga, dari dia yang tadi malam bercerita. Ada satu pesan yang memicu getaran lama:
“Kalau kamu sempat, boleh nggak baca tulisan panjangku yang tadi malam kelar? Pengen denger pendapatmu, kayak dulu.”
“Kayak dulu.” Dua kata itu menohok. Dulu, aku akan menjawab secepat kilat, membaca detail, memberi komentar panjang—bahkan kalau itu berarti menunda sarapan dan mengabaikan jadwal sendiri. Ada sensasi kecil di dadaku yang rindu: nostalgia akan peran sebagai tempat sampah emosional yang selalu siap sedia.
Jantungku mempercepat ritme. Peran lama itu ternyata belum mati; ia hanya merunduk di sudut, menunggu kesempatan. Ia berbisik manis:
“Nggak apa-apa sebentar aja. Buktikan kamu masih penting buat dia.”
Refleks lamaku hampir mengiyakan. Tapi telapak tanganku yang masih menghangat di dada seakan menahan:
“Tunggu. Pulang dulu. Dari rumah ini, baru kamu putuskan.”
Aku menutup mata. Menarik napas. Lalu bertanya hal yang kemarin sudah mulai kupelajari:
“Aku sanggup nggak? Bukan demi jadi pahlawan, tapi demi tetap hidup utuh sepanjang hari?”
Jawabannya jujur: aku bisa membaca, tapi tidak sekarang—masih terlalu rapuh. Jadi aku mengetik pelan:
“Aku pengen baca, tapi jujur pagi ini aku lagi isi ulang dulu. Boleh nggak aku baca nanti malam atau besok, pas kepalaku lebih lapang? Aku pengen hadir penuh waktu baca.”
Jempolku sempat ragu di atas tombol kirim. Otakku menyiapkan skenario: dianggap berubah, dianggap menjauh. Tapi aku menekan kirim juga. Napasku sempat tertahan beberapa detik menunggu balasan.
Lalu muncul:
“Tentu boleh. Makasih udah jujur. Aku juga lagi belajar nunggu tanpa panik.”
Dada yang tadi menegang perlahan mengendur. Koordinat Pulang menyelamatkanku lagi dari transaksi tak terlihat: menukar energiku demi rasa dibutuhkan.
Siang: Benturan Antara Ambisi dan Batas Tubuh
Menjelang siang, tubuhku mulai “normal”; otak terasa lebih jernih. Di titik itu, muncul godaan lain: ambisi. Di kepalaku, daftar hal yang ingin kukejar berjajar: menulis, belajar hal baru, menyusun ulang rencana hidup yang sempat kubahas di Orbit Diri. Ada euforia kecil yang membisikkan:
“Mumpung lagi semangat, gaspol! Buktikan kamu versi upgrade dari dirimu yang dulu.”
Aku membuka laptop, mulai menyusun to-do list. Dalam waktu lima menit, daftar itu berubah jadi dinding tinggi yang menekan dada. Tanganku yang barusan penuh harapan, pelan-pelan kaku. Aku nyaris tertawa getir: bahkan di Alamat Baru, aku masih sempat membawa furnitur lama bernama perfeksionisme.
Di tengah tumpukan rencana, aku berhenti. Menatap satu titik di layar yang kosong. Lalu tanpa sadar, tanganku kembali mendarat di dada. Napas masuk, keluar, masuk lagi.
“Koordinat Pulang,” batinku memanggil, seolah memanggil seorang teman lama. “Kalau aku harus memilih tiga hal saja hari ini, yang mana yang membuat rumah di dalam tetap menyala—bukan padam?”
Jawabannya muncul pelan, bukan dari ambisi, tapi dari kejujuran tubuh: makan yang layak, satu pekerjaan inti yang benar-benar harus selesai, dan satu momen hening untuk menulis, bukan untuk membuktikan apa pun, melainkan untuk membasuh diri.
Aku menghapus hampir separuh daftar yang barusan kubuat. Ada bagian dari diriku yang protes, merasa gagal jadi produktif. Tapi ada juga bagian lain—lebih dalam, lebih tenang—yang berbisik:
“Hari Ke-24 bukan soal seberapa banyak kau menaklukkan dunia, tapi seberapa sering kau ingat pulang sebelum lelah berubah jadi bencana.”
Sore: Ujian Halus dari Keluarga dan Label “Anak Baik”
Sore hari, ujian datang dari arah yang lebih personal. Telepon dari keluarga. Nada suaranya akrab, tapi ada gesekan halus di baliknya:
“Kamu kok akhir-akhir ini jarang muncul? Sibuk banget, ya? Nanti jangan sampai lupa keluarga cuma karena kebanyakan urusan sendiri.”
Kata-kata itu menancap di titik rapuhku yang paling lawas: takut jadi anak yang egois. Refleks lamaku ingin segera menghapus rencana malam, menawarkan diri datang, menanggung semua agar tak ada yang kecewa.
Dadaku berdesir. Telapak tangan yang sedari tadi setia, kembali pelan menekan dada. Kali ini gerakannya nyaris otomatis, seperti reflek orang yang menutup luka terbuka.
Dalam diam, aku bertanya:
“Bisakah aku tetap jadi anak yang peduli, TANPA meninggalkan rumahku sendiri?”
Napas masuk. Napas keluar. Aku mendengarkan intonasi, bukan hanya isi kalimat di seberang telepon. Ada kecemasan, tapi juga ada cinta yang kaku cara mengungkapnya. Aku menjawab pelan:
“Aku kangen juga. Minggu ini energiku lagi turun-naik, jadi aku lagi belajar atur ulang ritme. Gimana kalau kita janjian video call yang bener-bener santai besok atau lusa? Aku pengen hadir penuh, nggak cuma fisik tapi juga jiwa.”
Hening sesaat. Lalu sebuah helaan napas terdengar dari seberang:
“Ya sudah, yang penting kamu jaga diri. Tapi jangan hilang lama-lama. Kamu tetap bagian dari rumah ini.”
Kalimat itu menabrak sesuatu di dalam: aku punya dua rumah sekarang—rumah di dalam diri, dan rumah tempat aku berasal. Hariku dipenuhi latihan baru: bagaimana berdiri di tengah dua rumah tanpa pecah jadi dua.
Malam: Menyadari Rumah Ini Bukan Sekadar Tempat Pulang
Malam datang lebih pelan hari ini. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada drama berlebihan. Tapi justru di keheningan itulah aku menyadari sesuatu: Koordinat Pulang bukan lagi hanya tombol darurat. Ia mulai berubah fungsi menjadi modus hidup default.
Di depan jurnal, aku menulis dengan tangan yang lebih stabil dari Hari Ke-23:
“Hari Ke-24, 21.38
Aku mulai paham: rumah di dalam bukan hanya tempat aku kembali ketika kelelahan, tapi titik berangkat sebelum aku melangkah. Setiap kali telapak tanganku menyentuh dada, aku diingatkan bahwa aku bukan sekadar peran—bukan hanya anak baik, teman andalan, atau rekan kerja yang sigap. Aku adalah seseorang yang layak untuk tidak hilang di cerita siapa pun, bahkan di cerita yang kutulis sendiri.”
Setelah menulis itu, aku mengangkat kepalaku. Ada keheningan aneh, tapi hangat, mengisi kamar. Aku menyadari betapa hari ini penuh keputusan-keputusan kecil yang tak akan pernah dilihat orang lain: menunda membaca tulisan seseorang, mengurangi to-do list, berani jujur pada keluarga, merawat batas tanpa perlu pidato panjang.
Keputusan-keputusan kecil itu ibarat titik-titik koordinat di peta. Jika kusambungkan, mereka membentuk satu garis yang mengarah ke tempat yang sama: pulang.
Sebelum tidur, sekali lagi, telapak tanganku mendarat di dada. Kali ini bukan sekadar untuk menenangkan, tapi untuk mengucap terima kasih.
“Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah mau pulang berkali-kali hari ini, bahkan ketika godaan peran lama masih terasa manis. Besok, Hari Ke-25 mungkin akan datang membawa ujiannya sendiri. Tapi malam ini, aku mengakui satu hal: aku tidak lagi jadi tamu di dalam tubuhku. Aku tuan rumah yang belajar membuka pintu dan menutupnya dengan sadar.”
Di detik terakhir sebelum terlelap, terasa jelas sekali: Koordinat Pulang bukan hanya titik di peta; ia adalah cara aku berjalan. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut jika dunia besok mengetuk lebih keras—karena kini aku tahu, di balik setiap ketukan, selalu ada kesempatan baru untuk memilih: tetap tinggal di rumah batin, atau tersesat lagi. Dan malam ini, aku memilih percaya bahwa aku akan pulang, lagi dan lagi.