seanharrisonblog.com – Hari Ke-7 tidak datang sebagai babak final yang megah. Ia datang sebagai garis tipis setelah enam hari yang terasa seperti percobaan rahasia antara saya dan diri saya sendiri. Kalau Hari Ke-6 adalah tes keikhlasan dalam sunyi, maka Hari Ke-7 adalah tes keberanian untuk bertahan di tengah kecurigaan baru: apakah semua ini hanya fase?
Pagi ini, untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, saya bangun bukan dengan rasa takut tertinggal, bukan juga dengan euforia perubahan. Saya bangun dengan rasa yang jauh lebih sederhana dan, jujur saja, menakutkan: bosan.
Di sinilah saya sadar, Hari Ke-7 bukan tentang memulai lagi. Hari ini adalah tentang tidak kabur ketika yang tersisa hanya rutinitas tanpa tepuk tangan, ketika sumpah-sumpah heroik kemarin sudah mereda jadi bisik lirih di belakang kepala.
Pagi Hari Ke-7: Bosan Pertama yang Mengguncang Rencana
Alarm 05.30 berbunyi lagi. Kali ini saya tidak langsung menatap langit-langit. Saya menatap ponsel. Jari saya refleks membuka media sosial, berharap ada sesuatu yang mengalihkan: berita, notifikasi, validasi kecil. Tidak ada yang istimewa. Dunia berjalan biasa saja, seolah saya tidak sedang melakukan eksperimen eksistensial bernama “12 Bulan Menuju Lompat”.
Di sela guliran tanpa arah itu, sebuah pikiran sinis menyelinap:
“Untuk apa semua ini? Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang peduli.”
Kalimat itu tidak berteriak. Ia berbisik, pelan, tapi menembak tepat ke titik paling lemah: kerinduan saya untuk diingat, yang kemarin saya akui tanpa topeng. Tiba-tiba, janji yang saya ucapkan di Hari Ke-4 dan diperbarui di Hari Ke-6 mulai terasa seperti kontrak yang saya tandatangani dengan darah, sementara pagi-pagi seperti ini adalah cicilan yang harus saya bayar, tanpa ada bunga prestise.
Saya menatap plafon dan bergumam pelan, lebih jujur daripada doa-doa manis yang biasa saya tulis:
“Aku lelah jadi proyek rahasia diriku sendiri.”
Kalimat itu menggantung di udara. Saya bisa saja membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti. Tapi anehnya, justru di sana, sesuatu yang lain ikut muncul: rasa ingin tahu yang kecil namun bandel.
“Kalau aku teruskan satu hari lagi, apa yang akan terkuak?”
Pertanyaan itu yang akhirnya mengangkat tubuh saya dari kasur. Bukan semangat, bukan kedisiplinan besi, hanya rasa penasaran: apa yang terjadi pada orang yang memutuskan untuk hadir bahkan ketika bosan datang lebih dulu daripada inspirasi?
3 Getaran Jujur di Hari Ke-7 yang Tidak Saya Duga
Di depan meja kerja, kopi mengepul pelan. Bukannya langsung menulis, saya hanya duduk dan mendengarkan dalam-dalam. Di balik bosan, saya menemukan tiga getaran baru yang kemarin belum sempat saya namai.
1. Getaran Rapuh: Takut Bahwa Ini Semua Akan Sia-Sia
Getaran pertama muncul ketika saya membuka kembali spreadsheet “12 Bulan Menuju Lompat”. Angka-angka masih belum rapi, proyeksi masih samar, dan belum ada lonjakan dramatis keuangan yang bisa saya banggakan. Di titik itu, sebuah ketakutan lama bangkit:
“Bagaimana kalau setahun ini berlalu, dan tidak ada yang berubah?”
Rasa rapuh itu menyusup ke telapak tangan saya yang mulai berkeringat. Untuk beberapa menit, saya hanya menatap layar kosong, merasa kecil di hadapan masa depan yang kabur.
Lalu saya ingat sesuatu yang saya tulis di Hari Ke-6: “Aku belum tahu kota tujuan, tapi aku menolak selamanya tinggal di bandara.” Hari ini, metafora itu terasa lebih tajam. Di bandara, semua orang terlihat menuju suatu tempat, tapi sebagian dari mereka sebenarnya hanya sibuk menunda keberangkatan.
Saya menulis pelan di jurnal:
“Hari Ke-7, 06.48
Aku takut waktuku habis di ruang tunggu. Tapi hari ini, duduk di kursi ini dan menulis, walau tanpa kepastian, masih lebih jujur daripada pura-pura sibuk di gerbang yang tak pernah kupijak.”
Getaran rapuh itu tidak lenyap, tapi berubah tekstur. Ia menjadi pengingat lembut bahwa rasa tidak aman bukan bukti kegagalan, melainkan bukti bahwa saya benar-benar sedang mempertaruhkan sesuatu.
2. Getaran Marah: Pada Diri Sendiri yang Dulu Sering Kabur
Menjelang siang, ketika kata-kata mulai mengalir, sesuatu yang lebih keras muncul: marah. Bukan pada dunia, bukan pada mantan bos atau sistem kerja, tapi pada versi diri saya yang dulu sering bernegosiasi untuk mundur setiap kali proses mulai membosankan.
Ingatan-ingatan kecil bermunculan: program yang tidak saya lanjutkan setelah minggu kedua, proyek pribadi yang berhenti di bab tiga, ide bisnis yang mati di file presentasi. Semua rekaman itu menumpuk jadi satu, membentuk semacam sidang batin di kepala saya.
Saya menulis tanpa sensor:
“Aku marah karena aku sudah terlalu sering meninggalkan diriku sendiri. Terlalu sering menjanjikan ‘nanti aku serius’, hanya untuk menghilang saat jalan mulai datar dan tidak ada sorak-sorai.”
Kali ini, saya tidak menenangkan kemarahan itu dengan kata-kata bijak. Saya biarkan ia mengalir, menembus tulang-tulang keputusan saya. Di tengah panasnya, ada kalimat lain yang menyejukkan:
“Tapi hari ini, aku duduk. Hari ini, aku menulis. Hari ini, aku tidak kabur.”
Di titik itu, saya merasa sesuatu menggeser di dalam: kemarahan yang tadinya menghakimi berubah menjadi bahan bakar. Ia tidak lagi berkata, “Kamu selalu gagal,” melainkan, “Kali ini, jangan ulangi pola yang sama.”
3. Getaran Pasrah: Bukan Menyerah, Tapi Meletakkan Beban Citra
Menjelang sore, setelah beberapa halaman jurnal dan beberapa sketsa rencana kerja untuk minggu depan, saya tiba-tiba merasa sangat tenang. Bukan tenang yang euforia, tetapi tenang seperti seseorang yang akhirnya berani duduk di lantai setelah lama berdiri menjaga penampilan.
Saya sadar, selama enam hari ini, di balik niat jujur untuk hadir, saya masih menggenggam erat satu hal: kebutuhan untuk terlihat mengesankan. Bahkan eksperimen kejujuran ini pun sempat saya bayangkan sebagai cerita dramatis yang kelak bisa saya ceritakan dengan bangga.
Di Hari Ke-7, sesuatu di dalam saya berkata pelan:
“Bolehkan, hari ini, kita berhenti mencoba menjadi kisah yang heroik, dan hanya menjadi manusia yang hadir?”
Pertanyaan itu terasa seperti undangan untuk meletakkan beban citra. Saya bersandar di kursi, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, saya mengizinkan diri saya tidak memikirkan bagaimana cerita ini akan terlihat dari luar. Saya hanya fokus pada satu fakta sederhana: saya masih di sini.
Pasrah di sini bukan berarti menyerah. Ia lebih mirip tindakan membuka tangan yang sejak tadi menggenggam terlalu kencang. Dalam keheningan itu, saya mendengar kalimat baru mengalir dari dasar yang sama dengan suara lirih kemarin:
“Kalau pun perjalanan ini nanti tidak berakhir megah, aku tetap memilih jalan ini karena di sinilah aku paling dekat dengan diriku sendiri.”
Malam Hari Ke-7: Saat Rutinitas Menjadi Bukti Cinta Batin
Malam turun lagi, kali ini tanpa drama langit jingga yang menakjubkan. Lampu kamar biasa saja. Udara biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kosmik bahwa saya baru saja melewati seminggu penting dalam hidup saya.
Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang berbeda: rasa tenang yang tidak mengandalkan kemenangan besar. Saya berbaring, menatap plafon, dan menghitung pelan: tujuh hari. Tujuh kali saya memilih untuk hadir, meski beberapa di antaranya saya hadir dengan tubuh yang malas, kepala yang ragu, dan hati yang penuh pertanyaan.
Saya menulis kalimat penutup untuk Hari Ke-7 di jurnal:
“Tidak ada pesta hari ini. Tidak ada kembang api. Yang ada hanya satu fakta kecil yang mulai terasa besar: aku mulai percaya bahwa aku benar-benar mampu menemani diriku sendiri lebih dari sekadar tiga hari antusias dan dua hari takut. Aku mulai belajar mencintai diriku dalam bentuk paling membosankan: konsistensi.”
Sebelum menutup buku, saya menambahkan satu catatan kecil untuk diri saya 12 bulan mendatang:
“Kalau suatu hari kamu membaca ini dan lupa rasanya memulai, ingatlah: kamu tidak dibangun oleh satu momen berani, tapi oleh tujuh hari pertama ketika kamu memilih hadir tanpa jaminan apa-apa.”
Saya mematikan lampu. Dalam gelap, saya berbisik pelan, tanpa janji yang berlebihan:
“Besok, Hari Ke-8, aku tidak tahu apa yang akan datang. Tapi malam ini, aku mengakui satu hal: tujuh hari ini mengubah sesuatu di dalam. Dan itu cukup untuk satu malam.”
Di balik kelopak mata yang berat, saya merasa sebuah babak baru sedang mengintip dari kejauhan. Bukan babak penuh sorot lampu, tapi babak di mana saya perlahan-lahan belajar berjalan bukan demi dilihat, melainkan demi tetap setia pada napas sendiri.