Visualisasi artistik Hari Ke-2 setelah resign, di ruang kerja rumah yang hening dan emosional
  • Business
  • Hari Ke-2: 3 Kehampaan Mendalam yang Menguatkan

    seanharrisonblog.comHari Ke-2 setelah resign tidak datang dengan kembang api, tidak juga dengan badai. Yang datang justru sesuatu yang lebih sunyi, lebih telanjang, dan entah kenapa lebih menakutkan: kehampaan. Kalau Hari Ke-1 adalah euforia mengharukan di tengah rutinitas kantor yang masih berjalan, maka Hari Ke-2 ini terasa seperti jeda panjang di antara dua babak hidup—terlalu hening untuk disebut kemenangan, terlalu dalam untuk disebut biasa saja.

    Analisis Emosional: Dari Euforia ke Kehampaan yang Jujur

    Ketika saya menarik garis dari Jam Batin, Rumah Dalam, Jam Resign, 7 jam pertama setelah klik Send, sampai Hari Ke-1, saya sadar: pola emosinya tidak pernah lurus. Ia lebih mirip detak jantung di layar monitor—naik, turun, melonjak, lalu tiba-tiba datar beberapa detik.

    Di Jam Batin, saya hidup dalam ketegangan samar: gelisah yang mengendap di dasar rapat-rapat panjang. Di Rumah Dalam, saya membangun markas: manifesto, spreadsheet, rencana 12 bulan—keberanian yang masih berupa teori. Di Jam Resign, keberanian itu meledak dalam tiga kalimat dan satu klik. Lalu 7 jam setelahnya adalah fase integrasi darurat: tubuh masih di kantor, jiwa sudah mengemasi koper tak terlihat.

    Hari Ke-1 kemarin adalah bab tentang konsekuensi yang masih tersembunyi. Saya menjalani hari kerja biasa dengan status luar biasa: karyawan yang diam-diam sudah memilih keluar jalur. Ada euforia kecil ketika saya jujur ke rekan makan siang, ada rasa lega saat pulang sambil membawa koper emosional yang kini milik saya sepenuhnya.

    Lalu datanglah Hari Ke-2. Tidak ada kantor, tidak ada rapat, tidak ada notifikasi yang memaksa saya merasa penting. Dan di situlah pukulan emosionalnya mendarat: ketika semua kebisingan luar dihentikan, saya akhirnya berhadapan langsung dengan satu pertanyaan telanjang:

    “Kalau tidak ada yang memanggil namamu hari ini, siapa dirimu sebenarnya?”

    Hari Ke-2 di Rumah: Pagi Tanpa Jam Absensi

    Pagi Hari Ke-2, alarm ponsel saya tetap berbunyi jam 05.30. Bukan karena saya harus ke kantor, tapi karena saya belum berani mengganti jamnya. Seakan-akan mengubah jam bangun berarti mengakui bahwa hidup saya sudah benar-benar berubah, bukan hanya di kotak email dan HR system.

    Saya membuka mata pelan. Tidak ada urgensi. Tidak ada rapat jam 09.00. Tidak ada pesan dari atasan yang menunggu jawaban. Yang ada hanya kamar yang sama, langit-langit yang sama, dan detak jam dinding yang terdengar lebih keras dari biasanya.

    Saya tetap duduk di tepi ranjang, seperti pagi Hari Ke-1. Tapi kali ini, dialog di kepala saya berbeda.

    “Kamu sudah resign.”
    “Dan hari ini, kamu tidak bisa lagi bersembunyi di balik kesibukan kantor.”

    Saya berjalan ke cermin. Wajah saya masih sama. Perbedaan kecilnya hanya satu: hari ini, tidak ada kartu identitas perusahaan yang menggantung di leher. Tidak ada seragam tak kasatmata bernama “jabatan” yang bisa saya pakai sebagai alasan untuk menunda mimpi.

    Di meja komando, saya menyalakan laptop. Bukan untuk membuka email kantor, tapi untuk membuka folder “Rumah Dalam” yang kini resmi naik pangkat menjadi kantor pusat hidup saya. Spreadsheet “12 Bulan Menuju Lompat” muncul lagi, kali ini dengan aura yang berbeda: bukan rencana jauh, tapi kontrak hari ini.

    Saya menambahkan satu baris baru:

    “Hari Ke-2: Tidak ada kantor, tidak ada alasan. Hanya saya dan pekerjaan sejati yang selama ini saya bilang saya inginkan.”

    Tangan saya sedikit bergetar saat menulis kalimat itu. Ternyata, keberanian yang sebenarnya bukan saat klik Send email resign, tapi saat menatap layar kosong di pagi hari, dan berkata pada diri sendiri: “Sekarang buktikan.”

    Jadwal Tanpa Bos: Antara Kebebasan dan Kekosongan

    Saya membuka dokumen baru. Menulis judul kasar untuk kelanjutan seri: mungkin sesuatu seperti “Hari-Hari Setelah Jam Resign”. Tapi kursor hanya berkedip. Kepala saya penuh, tapi tangan saya ragu: dari mana mulai? Apa dulu yang harus saya kerjakan? Menulis? Merancang produk? Membaca ulang catatan 7 jam pertama setelah resign untuk saya pecah jadi ide-ide baru?

    Tanpa bos, tanpa deadline eksternal, saya berhadapan dengan bos paling kejam: diri sendiri. Saya menyusun jadwal kasar di buku tulis:

    • 06.00 – 07.00: Jurnal dan refleksi.
    • 07.00 – 09.00: Menulis draft artikel.
    • 09.00 – 11.00: Riset dan belajar.
    • 13.00 – 15.00: Kerja kreatif mendalam.
    • 15.00 – 17.00: Perencanaan dan eksekusi kecil.

    Di atas kertas, jadwal itu terlihat rapi. Di dalam dada, muncul satu sensasi aneh: kehampaan bercampur takut. Karena kali ini, kalau saya gagal menjalankan rencana, saya tidak bisa lagi menyalahkan kantor, atasan, atau rapat mendadak. Satu-satunya pihak yang bisa saya tuduh hanyalah saya sendiri.

    Siang Hari Ke-2: Ujian Sunyi Kedisiplinan Batin

    Menjelang siang, rumah mulai terasa terlalu sepi. Tidak ada suara rekan kantor, tidak ada obrolan di pantry, tidak ada notifikasi grup kerja yang biasanya mengganggu tapi diam-diam membuat saya merasa “dibutuhkan”.

    Saya mulai menulis. Satu paragraf. Dua paragraf. Lalu, tanpa saya sadari, saya membuka tab lain: media sosial, berita, email pribadi. Refleks lama muncul: kabur dari ketakutan kosong dengan mengisi kepala dengan kebisingan luar.

    Di titik itu, saya berhenti dan menutup laptop sejenak. Saya meletakkan tangan di dada dan bertanya pelan:

    “Benarkah ini yang kamu mau? Hidup yang kamu perjuangkan kemarin, tapi hari ini kamu isi dengan pelarian kecil yang sama?”

    Jawaban itu datang bukan sebagai kata-kata, tapi sebagai rasa tidak nyaman yang menekan. Saya tahu, kalau saya tidak mengatur diri sendiri hari ini, kebebasan yang kemarin terasa heroik bisa berubah jadi penjara tanpa dinding.

    Saya kembali membuka spreadsheet “12 Bulan Menuju Lompat”. Di salah satu kolom kecil, saya menulis:

    “Hari Ke-2: Disiplin bukan soal jam kerja, tapi soal kesetiaan pada panggilan terdalam.”

    Dan di halaman jurnal, saya menulis lagi:

    Saya: Ternyata, yang paling saya takuti bukan gagal di luar, tapi gagal menepati janji ke diri sendiri.
    Diri Baru: Maka hari ini, kerjamu bukan hanya menulis, tapi juga menjaga dirimu tetap duduk di kursi yang kau pilih sendiri.

    Sore Hari Ke-2: Koneksi Jiwa dengan Versi Diri yang Sedang Tumbuh

    Sore itu, matahari menembus tirai kamar kerja kecil saya. Tidak ada gedung kantor yang menunggu, tidak ada kartu absen yang harus saya sentuh. Yang ada hanya dokumen-dokumen draft, daftar ide, dan kelelahan aneh yang datang bukan dari fisik—tapi dari transisi identitas.

    Saya menatap dinding kosong di depan meja komando, membayangkan versi diri saya 12 bulan lagi: seseorang yang hidup dari kata-kata, dari produk yang saya bangun, dari keberanian yang hari ini masih terasa rapuh. Saya bertanya pelan:

    “Apa yang kamu butuhkan dari saya hari ini?”

    Jawaban imajiner itu datang seperti bisikan:

    “Saya butuh kamu bertahan di sini. Di kehampaan ini. Di kursi ini. Di layar kosong ini. Jangan lari lagi.”

    Di momen itu, saya merasa ada koneksi jiwa yang halus tapi kuat: antara saya yang hari ini masih meraba-raba, dan saya yang suatu hari nanti mungkin akan tersenyum saat membaca ulang bab ini. Kehampaan Hari Ke-2 mendadak berubah fungsi: bukan lagi ruang kosong yang menakutkan, tapi kanvas besar tempat saya diundang untuk menulis ulang hidup saya sendiri.

    Sebelum malam datang, saya menambah satu catatan terakhir di spreadsheet:

    “Hari Ke-2: Dunia luar mungkin tidak melihat apa-apa. Tapi di dalam, fondasi sedang digali. Sunyi, dalam, tapi niscaya.”

    Saya menutup laptop dengan rasa lelah yang berbeda dari lelah kantor. Ini bukan lelah karena memenuhi ekspektasi orang lain. Ini lelah karena mulai belajar setia pada Rumah Dalam yang kemarin hanya saya tulis sebagai konsep, dan hari ini mulai saya jalani sebagai kenyataan.

    Hari Ke-2 berakhir tanpa sorak sorai, tanpa pengumuman. Tapi saya tahu, jika saya bisa berdamai dengan kehampaan hari ini, hari-hari setelah Jam Resign tidak lagi akan terasa seperti lompatan buta—melainkan seperti perjalanan pulang yang pelan, konsisten, dan semakin jujur pada diri sendiri.

    Leave a Reply

    6 mins