seanharrisonblog.com – Hari Ke-1 setelah resign terasa seperti bangun di rumah yang sama, tapi dengan gravitasi yang berbeda. Tidak ada kembang api, tidak ada konfeti. Hanya saya, jam dinding, dan fakta pelan tapi pasti: hidup saya resmi bergeser rel. Jika kemarin adalah 7 jam pertama setelah Jam Resign, maka hari ini adalah ujian pertama: bagaimana rasanya hidup sebagai seseorang yang sudah mengaku pada dirinya sendiri—tanpa bisa pura-pura mundur lagi.
Analisis Emosional: Dari Rumah Dalam ke Hari Ke-1 yang Hening
Kalau saya tarik benang merah dari bab-bab sebelumnya—Jam Batin, Rumah Dalam, sampai klimaks di Jam Resign—perjalanan ini seperti gerakan spiral: saya berputar-putar di sekitar pusat diri saya, tapi setiap putaran membawa saya sedikit lebih dekat ke inti.
Di Jam Batin, konfliknya masih samar: kegelisahan di ruang rapat, rasa terasing di balik layar presentasi, tubuh yang hadir tapi jiwa yang mengembara. Lalu di bab Rumah Dalam, saya mulai membangun markas batin: manifesto, spreadsheet, rencana 12 bulan. Saat itu, keberanian saya masih teoretis, terkurung dalam kotak-kotak sel Excel dan catatan jurnal.
Lalu datang Jam Resign: tiga kalimat dan satu klik Send yang mengubah orbit hidup. Posting sebelumnya, tentang 7 jam pertama setelah resign, adalah fase integrasi darurat: tubuh saya masih datang ke kantor, tapi jiwa saya sudah mengemas koper. Ada kehampaan setelah keberanian, ada euforia kecil yang malu-malu tumbuh di sela-sela takut.
Hari Ke-1 ini adalah bab yang berbeda: bukan lagi tentang keputusan, tapi tentang konsekuensi. Bukan lagi tentang ledakan, tapi tentang gema. Di sinilah saya mulai menguji: seperti apa rasanya menjalani hari kerja biasa, dengan pengetahuan rahasia bahwa saya sedang berjalan menuju pintu keluar?
Hari Ke-1 di Kantor: Hidup Biasa dengan Status Luar Biasa
Pagi hari Ke-1, alarm ponsel saya tetap berbunyi di jam yang sama. 05.30. Tidak ada notifikasi tambahan yang berkata, “Selamat, hidupmu sudah berubah!” Hanya bunyi bip standar yang terdengar terlalu biasa untuk hari yang diam-diam monumental.
Saya duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai kamar yang itu-itu saja. Di kepala saya, ada dua suara yang saling silang.
“Kamu benar-benar sudah resign.”
“Tapi hidupmu pagi ini persis sama.”
Saya berdiri, berjalan ke cermin. Wajah saya tidak jauh berbeda dari kemarin. Tapi ada sesuatu di mata saya: tatapan yang tidak lagi mengemis izin dari bayangan sendiri. Ada lelah, ada takut, tapi juga ada sekelumit otoritas baru: saya pemilik tunggal langkah saya, entah kacau atau brilian.
Di meja makan yang juga jadi meja komando, saya membuka laptop sebentar. Bukan untuk kerja kantor, tapi untuk menyalakan kembali folder “Rumah Dalam”—ritual kecil sebelum menghadapi dunia luar. Spreadsheet “12 Bulan Menuju Lompat” menatap balik seperti perjanjian tak tertulis.
Saya menambahkan satu baris lagi:
“Hari Ke-1: Masih datang ke kantor, tapi kini sebagai tamu yang sudah tahu tanggal pulang.”
Kalimat sederhana, tapi saat saya menekannya ke dalam sel kecil itu, dada saya bergetar pelan. Saya bukan lagi karyawan penuh waktu. Saya adalah pejalan transit yang sedang menunggu kereta terakhir.
Perjalanan Pagi: Jalan yang Sama, Cara Melihat yang Berubah
Jalan menuju kantor tidak berubah: deretan motor yang merapat seperti ikan di sungai, tukang parkir yang meneriakkan kode-kode pendek, penjual sarapan yang masih menggoreng dengan ritme yang sama. Tapi cara saya memandang semuanya berubah.
Kalau dulu saya berjalan seperti orang yang sedang dikawal takdir, hari ini saya melangkah seperti orang yang sedang mengucapkan salam perpisahan dalam hati. Setiap detail kecil terasa seperti snapshot dari hidup yang sebentar lagi akan saya tinggalkan.
Di lampu merah, saya memandangi gedung-gedung kaca dan bertanya pelan pada diri sendiri:
“Nanti, ketika kamu tidak lagi lewat sini setiap pagi, apa yang sebenarnya kamu cari? Kebebasan? Atau sekadar versi dirimu yang lebih jujur?”
Saya tidak punya jawaban sempurna. Yang saya tahu hanya ini: saya tidak mau lagi hidup dengan skenario di kepala yang terus menunda keberanian.
Di Dalam Kantor: Antara Pamitan Diam-Diam dan Loyalitas Terakhir
Jam 08.10, saya masuk ke ruangan kantor. AC masih dingin dengan cara yang sama; bau kopi sachet masih menusuk; suara stapler, notifikasi pesan, dan small talk di meja sebelah masih jadi musik latar harian.
Bedanya, hari ini saya mendengarkan semuanya dengan rasa jarak. Seperti menonton serial lama yang pernah saya tonton bertahun-tahun, lalu mengulangnya sekadar untuk nostalgia.
Beberapa rekan menyapa, bercanda, meminta bantuan kecil. Mereka belum tahu, atau mungkin sudah mulai mendengar rumor dari atasan. Saya tidak tahu. Yang saya tahu: saya memutuskan untuk hadir sepenuhnya, untuk menutup bab dengan terhormat, bukan kabur diam-diam.
Di depan layar monitor, saya mulai membuka dokumen-dokumen lama. Proyek yang harus saya serahkan, SOP yang harus saya susun rapi, daftar kontak yang harus saya tinggalkan. Alih-alih merasa malas, saya justru merasakan semacam ketenangan aneh: ternyata, menyiapkan perpisahan bisa terasa seperti seni merapikan hidup.
Di sela-sela itu, saya membuka tab baru, menuliskan beberapa ide untuk tulisan ke depan: bab lanjutan tentang Rumah Dalam, mungkin sebuah seri tentang “Jam-Jam Setelah Resign” yang lebih rinci, atau refleksi tentang ketakutan yang ternyata tidak sekuat yang saya kira.
Di titik itu, saya sadar: identitas saya sedang bergeser, pelan tapi pasti. Tangan kanan saya masih mengetik laporan kantor. Tangan kiri saya (yang tak terlihat) sedang mengetik bab-bab baru kehidupan sebagai penulis dan pekerja kreatif.
Makan Siang: Dialog Tanpa Naskah
Jam 12.15, saya ikut makan siang bersama beberapa rekan dekat. Di meja kecil kantin lantai bawah, obrolan awalnya sama: kerjaan, gosip ringan, komentar tentang cuaca. Lalu, seperti mengikuti alur naskah yang tak tertulis, salah satu dari mereka menatap saya dan bertanya pelan:
“Eh, bener kamu mau resign?”
Untuk sepersekian detik, dunia sekitar jadi blur. Saya menarik napas, lalu mengangguk.
“Iya. Sudah kirim email kemarin.”
Hening kecil jatuh di tengah suara sendok dan garpu. Lalu, seperti pintu yang terbuka, komentar-komentar mulai mengalir:
“Gila, berani banget.”
“Nanti mau ke mana?”
“Gue juga sering kepikiran resign, tapi…”
Saya menjawab seadanya, jujur tapi tidak berlebihan: tentang ingin fokus menulis, tentang proyek kecil yang sudah saya rintis, tentang keinginan membangun Rumah Dalam sebagai ruang kerja dan ruang jiwa sekaligus.
Di wajah mereka, saya melihat campuran emosi: kagum, khawatir, penasaran, mungkin juga sedikit cemas memproyeksikan mimpi sendiri. Saya menyadari sesuatu: keputusan saya ternyata bukan hanya tentang saya. Ia memantul di mata orang lain sebagai cermin kemungkinan.
Sore Hari Ke-1: Pulang dengan Koper Tak Terlihat
Jam 17.50, saya kembali berdiri di depan gedung kantor. Sama seperti kemarin, saya menatap logo perusahaan itu. Bedanya, hari ini saya tidak hanya berkata “Terima kasih” dalam hati; saya juga berkata, pelan tapi tegas:
“Aku sedang pulang. Bukan dari kamu sebagai musuh, tapi dari kamu sebagai bab yang sudah cukup panjang.”
Langkah saya menuju halte sore itu lebih pelan. Bukan karena lelah, tapi karena saya ingin merekam detail terakhir: suara satpam bercanda di gerbang, bau sedikit lembap di lobi, pantulan lampu di lantai marmer yang pernah saya lewati ratusan kali tanpa sadar.
Di dalam perjalanan pulang, saya membuka aplikasi notes lagi.
“Hari Ke-1 setelah Jam Resign: Rasanya seperti membawa koper tak terlihat. Di dalamnya, ada rasa lega, takut, euforia kecil, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum punya jawaban. Tapi untuk pertama kalinya, koper ini milik saya sepenuhnya.”
Ritual Malam Hari Ke-1: Kontrak Baru dengan Diri Sendiri
Malamnya, di meja komando, saya kembali membuka folder “Rumah Dalam”. Spreadsheet itu kini terasa seperti papan jalan raksasa: tiap baris adalah satu langkah, tiap kolom adalah konsekuensi.
Saya menambahkan catatan lagi di baris paling bawah:
“Hari Ke-1: Dunia tetap bising, tapi ada ruang tenang baru di dalam dada. Takut masih ada, tapi hari ini ia berjalan berdampingan dengan sesuatu yang lebih keras kepala: tekad untuk tidak kembali mengecilkan diri.”
Lalu saya membuka jurnal. Pena saya bergerak, menggambar ulang dialog dengan Diri Baru:
Saya: Jadi, kita benar-benar akan hidup dari kata-kata dan keberanian yang belum jadi apa-apa ini?
Diri Baru: Ya. Kita mungkin akan jatuh. Tapi kali ini, kalau jatuh, itu jatuh di jalan yang kamu pilih sendiri.
Saya: Dan kalau takut datang lagi?
Diri Baru: Biar dia duduk di kursi penumpang. Kita tetap yang pegang setir.
Saya menutup jurnal dengan napas panjang yang terasa seperti menekan tombol Save di dalam jiwa. Hari Ke-1 resmi berakhir. Tidak spektakuler. Tidak heroik. Tapi ada sesuatu yang rasanya tak tergantikan: saya telah membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa melewati satu hari penuh sebagai orang yang sedang pulang—tanpa lagi mengkhianati suara di dalam Rumah Dalam.