seanharrisonblog.com – Hadir Lagi di Hari Ke-11 ternyata bukan sekadar tugas kecil yang saya tulis terburu-buru di ujung malam kemarin. Begitu mata saya terbuka, kalimat itu terasa seperti cermin yang saya taruh sendiri di depan pintu, memaksa saya encar sebelum benar-benar melangkah keluar dari kasur.
Yang pertama kali datang pagi ini bukan semangat, tapi rasa enggan yang kental. Tubuh saya berat, kepala penuh kabut. Tidak ada klimaks baru, tidak ada janji terobosan. Hanya satu bisikan lirih yang berulang di dalam dada: “Muncul lagi, meski tanpa alasan megah.”
Hari Ke-11: Pagi Tanpa Janji Spektakuler
Alarm 05.30 berbunyi lagi, nada yang sama, getar yang sama. Tapi pagi ini, tidak ada rasa heroik di balik gerakan tangan saya saat memencet tombol stop. Tidak ada adegan sinematik versi kepala saya. Hanya tubuh yang perlahan duduk, punggung yang terasa pegal, dan lantai dingin yang kembali menyentuh telapak kaki.
Saya ingat catatan di akhir Hari Ke-10: “Tugas Hari Ke-11: Hadir lagi. Tanpa janji akan menjadi luar biasa.” Saya ulang kalimat itu di kepala, awalnya seperti mantra, lalu pelan-pelan berubah menjadi pengakuan:
“Aku tidak punya apa-apa untuk dipamerkan hari ini. Tapi aku tetap di sini.”
Di titik itu saya menyadari: mungkin inilah versi paling jujur dari perjalanan ini—muncul dalam keadaan datar, tanpa montase kemenangan, tanpa soundtrack motivasi.
Jeda Sunyi: Menunggu Balasan yang Tak Kunjung Datang
Sebelum menyentuh jurnal, refleks pertama saya adalah melirik ponsel. Pesan kemarin—permintaan bicara pada seseorang yang pernah saya kecewakan—masih berhenti di posisi yang sama: centang dua, abu-abu, dingin.
Perut saya menegang. Ada bagian dari diri saya yang berharap keajaiban terjadi di antara malam dan pagi: balasan panjang, pengakuan, atau setidaknya satu kalimat pendek, “Ayo, kita ngobrol.” Tapi layar tetap sepi. Ruang Sunyi mengulangi pelajarannya: tidak ada jaminan bahwa keberanian akan dihadiahi segera.
Saya duduk lebih tegak, memaksa napas kembali panjang. Saya menolak membuka chat itu lagi. Sebagai gantinya, saya buka jurnal dan hanya menulis satu kalimat:
“Pagi Hari Ke-11: dunia belum menjawab, tapi aku tetap datang.”
Rasanya getir, tapi anehnya, ada sejumput kebebasan. Seolah-olah, dengan mengakui bahwa saya tidak mengendalikan respons siapa pun, saya akhirnya berhenti menggantungkan harga diri pada balasan biru kecil di layar.
Antara Kebosanan dan Keyakinan Sunyi
Saat tangan saya bergerak di atas kertas, saya mulai menyadari pola baru yang muncul sejak beberapa hari terakhir: rutinitas yang nyaris membosankan, tapi diam-diam menumbuhkan akar. Menulis, menarik napas, menatap dinding yang sama, lampu yang sama, jam yang sama. Tidak ada yang tampak istimewa.
Dulu, kebosanan seperti ini adalah musuh. Ia menandai saatnya mencari distraksi baru: proyek lain, orang lain, skenario lain di kepala. Hari ini, saya memilih berdamai dengannya. Saya menulis di halaman berikutnya:
“Kalau aku hanya bisa menjadi orang yang hadir di jam yang sama setiap pagi, mungkin itu sudah cukup radikal dibandingkan diriku yang dulu.”
Kata-kata itu mengguncang saya pelan. Saya teringat lagi lapisan-lapisan sunyi yang dulu membuat saya gelisah. Sekarang, lapisan-lapisan itu terasa seperti tanah liat: kasar, lengket, tapi bisa dibentuk perlahan oleh kehadiran yang diulang.
Kilas Balik: Jejak yang Mulai Terhubung
Di antara coretan pagi, potongan hari-hari sebelumnya muncul seperti montase pelan: keberanian mengirim email di Hari Ke-9, tujuh momen lirih di Hari Ke-10, janji kecil di Hari Ke-4. Semuanya bukan tentang kemenangan besar, tapi tentang reputasi baru yang sedang saya bangun di hadapan diri sendiri: reputasi sebagai orang yang tidak lagi kabur.
Dulu, saya sering merasa hidup saya terbuat dari halaman-halaman lompat: start dengan penuh energi, lalu hilang tanpa penutup. Kini, di Hari Ke-11, saya untuk pertama kalinya merasa hidup saya mulai menyerupai buku yang benar-benar diselesaikan: kalimat demi kalimat, hari demi hari, tanpa perlu skip halaman karena bosan.
Eksperimen Kecil: Sehari Tanpa Versi Panggung
Menjelang siang, godaan lama kembali muncul: keinginan menulis sesuatu yang bagus. Bukan sekadar jujur, tapi layak dikutip, bisa dijadikan caption, pantas diabadikan. Ego saya berbisik, “Kalau kamu sudah sejauh ini, kenapa tidak sekalian menjadikannya konten?”
Saya tersenyum miris. Saya hafal suara ini. Di Hari Ke-10, saya sudah menolak dorongan untuk memotret jurnal. Hari ini, saya memutuskan naik satu level: sehari penuh tanpa menjadi versi panggung.
Saya menulis sebuah eksperimen kecil di jurnal:
“Eksperimen Hari Ke-11: Tidak menjelaskan perjalananku kepada siapa pun hari ini. Tidak memposting, tidak menyiratkan, tidak memberi kode. Hanya hidup di sini, sebagai aku yang sepi, tanpa penonton.”
Keputusan itu terdengar sepele, tapi efeknya langsung terasa. Saya menyadari betapa seringnya saya hidup sambil membayangkan kamera imajiner mengikuti saya. Dengan mematikannya, saya tiba-tiba sendirian—dengan cara yang menakutkan sekaligus memerdekakan.
Dialog Batin dengan Diri Masa Depan
Sore hari, cahaya kembali masuk serong dari jendela, mengulang pola yang sama seperti kemarin. Saya teringat surat kecil kemarin: “Untuk Aku di Hari Ke-100.” Saya mengambil jurnal, membukanya di halaman tempat surat itu terlipat, tapi tidak saya baca. Saya hanya menatap lipatan kertasnya.
Lalu, spontan, saya menulis balasan imajiner dari diri saya yang di Hari Ke-100:
“Untuk Kamu di Hari Ke-11,
Aku membaca kata-katamu di saat aku hampir lupa kenapa aku memulai. Ternyata, kamu yang kelelahan dan hampir tidak punya apa-apa untuk dibanggakan inilah yang menyelamatkanku. Bukan versi paling kuat, tapi versi paling jujur dariku.”
Saya berhenti menulis, dada saya menghangat. Seolah-olah saya baru saja menerima pesan dari masa depan yang tidak menjanjikan puncak, tapi menjanjikan kontinuitas.
Di situ saya paham: Hadir Lagi bukan soal menjaga tren, tapi menjaga moral di dalam diri—kepercayaan mendasar bahwa saya layak dihadiri oleh saya sendiri, setiap hari.
Malam Hari Ke-11: Kelelahan yang Tidak Perlu Diselamatkan
Malam datang tanpa adegan dramatis. Tidak ada percakapan besar, tidak ada kabar mendadak dari masa lalu, tidak ada balasan pesan yang mengguncang. Ponsel tetap diam. Hidup tetap berjalan dalam garis lurus yang hampir membosankan.
Saya kembali duduk dengan jurnal di pangkuan. Kali ini, tangan saya tidak gemetar, hanya berat. Saya menulis pelan:
“Hari Ke-11, 21.47
Aku lelah lagi. Tapi berbeda dengan lelah dulu, kali ini aku tidak tergoda menyelamatkannya dengan distraksi. Aku membiarkan lelah ini duduk di sampingku, tanpa merasa harus membuatnya tampak puitis atau produktif.”
Lalu, tanpa rencana, saya menambahkan:
“Kalau sebagian besar hidupku akan terlihat seperti Hari Ke-11 ini—biasa, datar, tanpa klimaks—maka tugasku bukan mencari adegan baru, tapi belajar mengasihi diriku di hari-hari yang tidak layak diceritakan.”
Ironisnya, hari yang saya sebut tidak layak diceritakan justru berubah menjadi salah satu bab terpenting di perjalanan ini. Bukan karena apa yang terjadi di luar, tapi karena apa yang akhirnya saya izinkan tumbuh di dalam: kesediaan untuk tinggal bersama diri sendiri, bahkan ketika tidak ada yang spesial untuk dikagumi.
Sebelum menutup buku, saya menulis satu tugas baru, kali ini lebih lembut:
“Tugas Hari Ke-12: Uji lagi keberanian untuk hadir, tapi tambahkan satu hal kecil: izinkan dirimu merayakan satu detail sekecil apa pun yang biasanya kamu lewati.”
Lampu saya matikan. Gelap kembali turun, tapi kali ini terasa seperti selimut, bukan ancaman. Ruang Sunyi resmi bukan lagi tempat yang harus saya taklukkan. Ia perlahan menjadi ruang latihan abadi, tempat saya belajar bahwa keajaiban bukan hanya milik hari-hari dengan sorotan, tapi juga milik hari ke-11 yang biasa, rapuh, dan tetap memilih untuk Hadir Lagi.