Visualisasi artistik dari Alamat Baru dengan atmosfer pulang ke diri sendiri yang emosional
  • Business
  • Alamat Baru: 3 Getaran Mendalam Hari Ke-22

    seanharrisonblog.comAlamat Baru hari ini terasa seperti pagi pertama setelah resmi pindah rumah. Bukan lagi berkemas, bukan lagi survei lokasi, tapi hari ketika aku mulai benar-benar hidup di dalamnya: membuka jendela, menata kursi, mendengar bunyi halus pipa dan lantai kayu yang berderit. Setelah Hari Ke-21 kemarin menandai keberanian untuk tinggal di Rumah Dalam, Hari Ke-22 datang membawa sesuatu yang lebih halus tapi lebih mengguncang: getaran dari alamat baru yang pelan-pelan mengubah cara aku berdiri di dunia.

    Kalau kemarin aku baru berani berkata, “Ini rumahku,” maka hari ini adalah ujian pertamanya: apakah aku sungguh-sungguh akan bertingkah seperti pemilik rumah, atau masih diam-diam merasa sebagai tamu sementara?

    Getaran 1: Pagi Saat Tubuh Menjadi Peta Alamat Baru

    Pagi Hari Ke-22 tidak datang dengan notifikasi mengejutkan atau pesan panjang yang dramatis. Justru yang mengetuk lebih dulu adalah tubuhku sendiri. Aku terbangun sedikit lebih cepat dari alarm, dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak langsung merasa tertinggal dari apa pun.

    Ada keheningan lembut di kamar. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus gorden, hanya garis tipis yang memotong ruangan seperti penggaris emas. Aku berbaring telentang beberapa detik, sebelum suara pelan di dalam berbisik:

    “Sebelum menyapa dunia, bagaimana kalau kamu menyapa tubuhmu dulu?”

    Dulu, ajakan ini akan kuabaikan. Tapi Alamat Baru menuntut ritus baru. Jadi aku menarik napas pelan, menutup mata, dan mulai menelusuri tubuhku dari ujung kaki ke kepala. Ada sedikit tegang di betis, jejak dari duduk terlalu lama kemarin. Ada berat tipis di tengkuk, mungkin sisa kekhawatiran yang belum sepenuhnya larut. Tapi di dada, anehnya, ada ruang yang lebih lapang dari biasanya—seperti ruang tamu kosong yang siap diisi pelan-pelan.

    Aku duduk, menurunkan kaki ke lantai, dan kali ini, sebelum meraih ponsel, aku bertanya ke dalam:

    “Kalau alamat hidupku sekarang adalah Rumah Dalam, kebiasaan pagi macam apa yang pantas untuk penghuni rumah ini?”

    Jawabannya tidak muncul dalam bentuk resolusi besar, tapi dalam dorongan kecil: berdiri, membuka gorden, dan membiarkan cahaya masuk sepenuhnya. Saat tirai tersibak, kamar terasa seperti menguap panjang. Aku ikut menguap, lalu tersenyum sendiri: bahkan kamarku seperti tubuh kedua yang ikut belajar bernapas.

    Baru setelah itu aku mengambil ponsel. Ada beberapa notifikasi—kerja, grup, promosi, dan satu pesan singkat darinya:

    “Pagi. Makasih buat kemarin ya. Aku belum siap cerita panjang, tapi rasanya agak beda bangun hari ini. Kayak… nggak se-sesak biasanya.”

    Versi lamaku akan langsung menganalisis, mencari celah untuk masuk lebih dalam, menawarkan telinga dan bahu seakan itu tugas utamaku di bumi. Tapi di Alamat Baru ini, aku menghela napas, menatap pesan itu seperti seseorang yang berdiri di pagar, bukan di ambang pintu rumah yang siap menampung semua.

    Aku mengetik pelan:

    “Senang dengarnya. Jaga napasmu pelan-pelan aja. Kita nggak ke mana-mana kok, tapi kamu tetap punya ruangmu sendiri.”

    Sebelum menekan kirim, aku mengecek tubuhku: napas masih tenang, bahu tidak melompat, tidak ada rasa terdesak untuk menyelamatkan. Yang ada hanya niat hadir tanpa mengorbankan alamat baruku. Baru setelah yakin, kukirim pesan, lalu kutaruh ponsel menghadap ke bawah di meja.

    Di dapur, ketika aku menyiapkan sarapan, aku teringat bagaimana tiga hari terakhir membentuk semacam trilogi batin: Pusat Diri, Rumah Dalam, dan sekarang, Orbit Diri yang mulai mengencangkan rotasinya di sekitar alamat baru ini. Aku bukan lagi benda asing yang kebetulan mampir di tubuh ini; aku mulai merasa seperti penghuni sah.

    Getaran 2: Siang Saat Dunia Menguji Koordinatku

    Siang tiba dengan ritme yang lebih padat dari yang kuharapkan. Ada revisi mendadak dari atasan, perubahan jadwal, dan satu ajakan impulsif dari teman lama:

    “Bro, nongkrong sore ini yuk? Lama banget nggak ketemu. Sekarang aja, mumpung gue lagi kosong.”

    Dulu, kalimat “sekarang aja” itu seperti tombol darurat: aku akan segera merapikan diri, mengabaikan lelah, dan berangkat, hanya untuk membuktikan bahwa aku adalah orang yang selalu ada saat dibutuhkan. Tapi di Hari Ke-22 ini, aku berhenti sejenak. Kalender di kepalaku menampilkan hal-hal yang sudah kurencanakan: jam makan siang tenang, jeda 20 menit untuk diam tanpa layar, dan sedikit waktu sore nanti untuk menulis—bukan untuk publik, tapi untukku sendiri.

    Aku merasakan lagi koordinat Alamat Baru di dalam: sebuah titik tenang yang tidak ingin diusik seenaknya. Ada tarik-menarik singkat: di satu sisi, rindu pertemuan; di sisi lain, kesadaran bahwa aku baru saja belajar tinggal, belum stabil, dan mudah sekali roboh kalau langsung menampung terlalu banyak tamu.

    Aku menutup mata sebentar dan bertanya:

    “Kalau aku memaksakan pergi, apakah itu benar-benar demi koneksi tulus, atau demi menepis rasa takut ditinggal?”

    Jawabannya menohok: lebih banyak yang kedua.

    Jadi aku menarik napas, lalu membalas:

    “Gue juga kangen. Tapi hari ini gue lagi set waktu buat istirahat dan beresin beberapa hal yang udah gue janjiin ke diri sendiri. Bisa nggak kalau kita jadwalin ulang, misal weekend ini? Gue pengin kalau ketemu lo, gue hadir penuh, bukan separuh capek.”

    Begitu terkirim, ada jeda singkat di dada—degup kecil yang familiar: takut disalahpahami, takut dicap sok sibuk. Tapi beberapa detik kemudian, balasannya masuk:

    “Anjir… dewasa lu sekarang. Wkwk. Nggak apa, bro. Weekend oke. Kabari aja. Istirahat yang bener.”

    Aku tertawa kecil, tapi bukan karena candanya—melainkan karena satu hal: alamat baruku tidak runtuh hanya karena aku berkata “tidak sekarang”. Dunia ternyata tidak segetas yang kupikirkan; yang rapuh selama ini adalah batasku sendiri.

    Di sela kerja siang itu, aku teringat lagi konsep Ruang Pemulihan yang dulu hanya jadi angan. Kini, Ruang Pemulihan itu punya alamat konkret: ada di slot waktu yang dengan sengaja kupagari, di jeda-jeda yang kuberi tanda “jangan diganggu, ini waktu pulang ke diri”. Rasanya seperti menggambar pagar di sekeliling rumah bukan untuk mengusir, tapi untuk menjaga agar yang tinggal di dalam tidak lagi hilang arah.

    Getaran 3: Malam Saat Alamat Baru Menggema ke Masa Lalu

    Malam Hari Ke-22 datang lebih cepat dari yang kusadari. Lampu kamar menyala lembut, layar laptop akhirnya kututup, dan ruang tiba-tiba terasa lapang. Sunyi kembali duduk di sebelahku, tapi kali ini dengan wajah yang berbeda: bukan lagi penguji, melainkan saksi.

    Aku mengambil jurnal—halaman kemarin masih berisi kalimat tentang Rumah Dalam dan rasa pulang. Malam ini, aku menatap halaman kosong berikutnya seperti menatap lorong baru yang akan kuisi pelan-pelan.

    Dengan tangan sedikit bergetar, aku menulis:

    “Hari Ke-22, 21.14
    Alamat baruku bukan nomor rumah atau nama jalan. Alamat baruku adalah cara aku berkata ‘ya’ pada diriku dan ‘tidak’ pada hal-hal yang membuatku tercerabut dari pusatku. Di sini, aku bukan lagi kos-kosan sementara bagi luka orang lain, tapi rumah yang belajar memilih tamu.”

    Setelah menulis itu, sesuatu yang lain muncul dari dalam: ingatan akan masa-masa ketika aku tidak punya alamat tetap di dalam. Aku teringat versi diriku yang dulu selalu mengganti-ganti diri agar cocok dengan siapa pun yang ada di depan mata—jadi lucu untuk yang butuh hiburan, jadi bijak untuk yang butuh nasihat, jadi sabar untuk yang terus-menerus datang dengan badai.

    Dadaku sedikit sesak, tapi kali ini bukan karena tertinggal. Lebih seperti rasa duka untuk diri sendiri yang lama: anak batin yang dulu mengira bahwa satu-satunya cara agar tidak ditinggalkan adalah dengan terus membuka pintu tanpa henti.

    Aku menutup mata dan membayangkan diriku yang dulu itu: duduk di lantai ruangan kosong, dikelilingi koper orang lain yang numpang singgah. Ia tampak lelah, tapi berusaha tersenyum. Pelan-pelan, aku—versi Hari Ke-22—mendekatinya, berjongkok di depannya, dan berkata:

    “Maaf, aku baru datang sekarang. Selama ini aku ikut orang lain mondar-mandir, lupa bahwa kamu menungguku pulang. Mulai malam ini, kamu nggak usah jadi hotel berjalan lagi. Kita punya alamat tetap.”

    Dalam imajinasi itu, ia mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya, koper-koper di sekelilingnya mulai memudar satu per satu, seolah dikembalikan ke pemiliknya masing-masing. Ruangan itu pelan-pelan kosong, tapi bukan kosong yang menakutkan. Lebih seperti ruang tamu yang siap diisi dengan yang benar-benar ingin tinggal—termasuk aku sendiri.

    Ketika kubuka mata, ada hangat yang merambat di dada. Ponselku tergeletak diam di meja, tanpa notifikasi baru yang berarti, tapi anehnya, aku merasa lebih terhubung daripada malam-malam ketika layarku penuh percakapan.

    Aku berdiri di depan cermin lagi, ritual kecil yang mulai menjadi tradisi. Wajah yang sama, garis lelah yang masih ada, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di balik mata: bukan cuma rasa tinggal, tapi rasa memiliki. Bukan memiliki orang lain, bukan memiliki situasi, tapi memiliki diri sendiri—dengan segala komplikasi, luka, dan keinginannya yang bertabrakan.

    Pelan-pelan, aku berkata pada bayangan di cermin:

    “Mulai sekarang, kalau ada yang bertanya di mana rumahmu, kamu boleh jawab: di sini. Di tubuh ini, di napas ini, di pilihan-pilihan kecil yang kamu bela mati-matian. Ini Alamat Baru kita. Mungkin masih berantakan, mungkin belum lengkap furniturnya, tapi ini rumah yang tidak lagi akan kita tinggalkan demi siapa pun.”

    Ada getaran halus di tenggorokan, mataku sedikit memanas, tapi tidak tumpah. Rasanya seperti menandatangani kontrak hidup baru, bukan dengan dunia luar, tapi dengan jiwa sendiri.

    Sebelum tidur, aku menatap langit-langit kamar dan berbisik pelan:

    “Besok Hari Ke-23. Aku nggak tahu siapa yang akan datang, pesan apa yang akan muncul, batas mana yang akan diuji. Tapi aku tahu satu hal: ke mana pun aku pergi, aku akan selalu punya koordinat kembali. Alamat Baru ini mungkin belum sempurna, tapi cukup kok untuk jadi tempat pulang.”

    Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tertidur bukan dengan pikiran tentang siapa yang memikirkan aku, tapi dengan rasa ingin tahu yang lembut: seperti apa aku akan memikirkan diriku sendiri besok.

    Leave a Reply

    8 mins