Visualisasi artistik dari kejutan malam pertama di Jakarta dengan atmosfer emosional dan penuh harapan rapuh
  • Business
  • Kejutan Malam: 3 Momen Mengubah Hidup Mendalam

    seanharrisonblog.comKejutan Malam adalah cara Jakarta menjawab pelarian saya yang putus asa. Saat saya kira kota ini hanya akan menjadi latar pelarian seorang pria patah hati berumur 45 tahun, justru di satu malam lembap dan bising, hidup menghantam saya dari arah yang tidak saya duga. Di tengah kelelahan, jet lag, dan lubang gelap di dada saya, Jakarta menyodorkan tiga momen kecil yang terasa seperti tamparan halus ke wajah: “Bangun. Kamu masih hidup.”

    Malam Pertama: Sunyi di Tengah Kebisingan Jakarta

    Setelah menulis entri pertama saya tentang pelarian dari Amsterdam, saya menutup laptop pelan-pelan. Kamar hotel murah di bilangan Jakarta Pusat itu berbau campuran pengap, deterjen murahan, dan sedikit rokok basi dari entah siapa yang merokok sebelum saya. AC tua di pojok kamar berderit seperti sedang sekarat, meniupkan udara dingin yang tidak pernah benar-benar dingin.

    Saya berbaring menatap langit-langit yang bernoda, mencoba menelan kenyataan bahwa saya benar-benar berada di sini, ribuan kilometer dari pernah-ada dan pernah-berdua saya. Di Amsterdam, saya tahu persis suara malam: deru tram yang lewat, desisan hujan di jendela, suara lembut istri saya—mantan istri saya—yang mengigau pelan di sebelah saya.

    Di Jakarta, malam bukan malam. Di luar jendela, suara klakson menyalak tanpa ritme, motor meraung, dan sesekali terdengar teriakan penjual makanan kaki lima. Ada suara azan dari masjid entah di mana, menggema samar seperti panggilan dari dunia yang tidak saya mengerti. Kontras itu menyayat saya lebih keras dari yang saya bayangkan.

    Saya memejamkan mata, dan wajahnya muncul. Cara dia mengatakan, “I’m sorry, Sean, I can’t do this anymore.” Tatapan bersalahnya, laki-laki yang berdiri setengah bersembunyi di ujung lorong apartemen kami. Orang yang akhirnya memenangkan lotre yang tidak pernah saya tahu sedang kami mainkan.

    Saya menarik napas panjang dan mencoba mengingat alasan saya menulis. Di entri sebelumnya, saya menulis tentang pelarian ini sebagai “percobaan menemukan makna baru”. Malam itu, jujur saja, kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang saya ciptakan untuk menyelamatkan kewarasan.

    Namun ada sesuatu di luar sana—hiruk pikuk, panas, dan kehidupan yang tidak pernah berhenti—yang seperti memanggil saya. Jakarta tidak mengizinkan saya mengasihani diri sendiri terlalu lama. Kota ini terlalu bising untuk itu.

    Kejutan Malam Pertama: Warung Kaki Lima dan Rasa yang Menghantam

    Lapar memaksa saya bangkit. Jam di ponsel menunjukkan hampir pukul 10 malam. Di Amsterdam, ini biasanya waktu saya membuka laptop untuk memeriksa sisa kerjaan korporat yang tak ada habisnya. Di Jakarta, saya hanya seorang pria asing dengan kaus kusut, hati remuk, dan perut kosong.

    Saya turun lewat tangga sempit hotel dan keluar ke jalan. Panas malam menyergap seperti tembok: berat, lembap, dan lengket. Asap knalpot bercampur dengan aroma manis-pedas yang menusuk hidung. Di sisi jalan, deretan gerobak dan tenda sederhana berjajar: lampu-lampu kuning pucat menggantung, menerangi panci besar, wajan berminyak, dan wajah-wajah lelah yang tetap tersenyum.

    Saya berhenti di depan satu warung kecil dengan papan sederhana: “Nasi Goreng & Mie Goreng Spesial”. Seorang pria berkemeja lusuh dan berkeringat tersenyum pada saya.

    “Mister, makan? Nasi goreng?” tanyanya.

    Saya mengangguk kikuk. “Yes. Nasi goreng, please. Not too spicy,” saya menambahkan, memohon pada takdir agar perut Eropa saya tidak dihancurkan di malam pertama.

    Dia tertawa kecil. “Sedikit pedas, oke, mister. Biar semangat.”

    Saya duduk di bangku plastik kecil yang goyah. Di seberang jalan, saya melihat anak-anak kecil masih berlarian, tertawa, padahal malam sudah larut. Di meja sebelah, sekelompok anak muda berceloteh cepat dalam bahasa Indonesia yang terdengar seperti rap berkecepatan tinggi bagi telinga saya. Sesekali mereka menatap saya dan tersenyum sopan, lalu kembali pada tawa mereka.

    Saat piring nasi goreng diletakkan di depan saya, aromanya menghantam lebih kuat daripada rasa sedih yang sejak tadi menindih dada. Uapnya naik pelan, membawa wangi bawang putih, kecap, dan sesuatu yang asing tapi mengundang. Saya menyendok sedikit, meniupnya, lalu memasukkannya ke mulut.

    Ledakan rasa itu mengejutkan saya. Gurih, manis, sedikit pedas—dan untuk sesaat, semua latar belakang hidup saya di Amsterdam lenyap. Tidak ada ruang rapat, tidak ada email dini hari, tidak ada perselingkuhan. Hanya nasi, telur, sayuran, dan cita rasa yang terasa seperti sambutan hangat dari kota yang baru saja saya temui.

    Di tengah suapan kedua, ketiga, dan keempat, saya menyadari sesuatu yang sederhana: saya masih bisa merasakan nikmat. Di tengah kehancuran, tubuh saya masih mengenali kelezatan, dan jiwa saya—meski koyak—masih bisa berterima kasih.

    Malam itu saya berpikir tentang apapun yang pernah saya tulis di entri sebelumnya di hari pertama saya di Jakarta. Tentang kehampaan, tentang ketakutan, tentang pelarian tanpa rencana. Di bangku plastik warung kaki lima, saya merasa seperti sedang menulis ulang satu kalimat penting dalam hidup saya: mungkin saya tidak hanya melarikan diri. Mungkin, tanpa sadar, saya sedang mencari sesuatu yang berani saya sebut rasa hidup lagi.

    Momen Kejutan Kedua: Percakapan Singkat yang Menggetarkan

    Ketika saya hampir menghabiskan makanan, seorang bocah laki-laki menghampiri dengan ragu. Umurnya mungkin sekitar sepuluh tahun. Kaosnya kebesaran, celananya memudar, tapi matanya menyala terang.

    “Mister… from where?” tanyanya, lidahnya kaku namun berusaha.

    Saya tersenyum, agak terkejut. “From the Netherlands. Amsterdam.”

    Dia tampak berpikir keras lalu berkata pelan, “Ams…ter…dam.” Kemudian dia tertawa kecil, seolah berhasil menaklukkan teka-teki.

    “Nama kamu siapa?” saya balik bertanya, mencoba meminjam beberapa kosakata Indonesia yang saya dengar sepanjang hari.

    Matanya berbinar. “Rizki, Mister.”

    Dia duduk di ujung bangku tanpa diminta, memandang lalu lintas yang tak kunjung berhenti, lalu menoleh ke saya lagi. “Jakarta… ramai, ya?” katanya, kali ini dalam bahasa yang saya mengerti: keramaian. Tanpa sadar saya mengulang kata itu dalam hati, ramai, seperti mantra yang perlahan mengisi ruang hampa.

    “Very crowded,” saya mengangguk. “But… alive.”

    Rizki mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti, tapi merasa. Ada jeda singkat, lalu dengan polos dia bertanya, “Mister… sendirian?”

    Pertanyaan itu menusuk tepat di tempat yang paling rapuh. Saya menelan ludah. Bandung, Bali, atau dimanapun nanti saya akan pergi, saya tahu pertanyaan itu akan selalu mengikuti saya: apakah saya sendirian, atau hanya merasa ditinggalkan?

    “Yes,” jawab saya pelan. “I’m alone.”

    Rizki memandang saya lama. Lalu, dengan kepolosan yang sepenuhnya jujur, ia berkata, “Enggak apa-apa, Mister. Di Jakarta… banyak teman.” Ia menunjuk sekeliling dengan tangannya yang kecil. “Ramai.”

    Saya tidak tahu kenapa kalimat itu mengguncang saya lebih hebat daripada email pemecatan saya, atau pengakuan perselingkuhan istri saya. Seorang anak kecil yang bahkan tidak tahu di mana Amsterdam berada, memberitahu saya bahwa kesendirian saya bukanlah akhir. Bahwa di kota yang ramai ini, selalu ada kemungkinan terhubung lagi.

    Malam itu saya tahu: Kejutan Malam bukan sekadar tentang kota yang bising, tetapi tentang dipaksa mengakui bahwa hati saya—yang saya kira sudah mati—masih mampu bergetar oleh kebaikan sederhana.

    Momen Kejutan Ketiga: Janji Diam-diam pada Diri Sendiri

    Sepulang dari warung, saya berjalan perlahan kembali ke hotel. Jalanan masih padat, tapi ada ritme yang mulai bisa saya terima. Lampu-lampu kota memantul di genangan air sisa hujan sore, membentuk mosaik warna-warni: merah, kuning, hijau, putih. Seperti kota ini menolak untuk benar-benar gelap.

    Di kamar, saya membuka laptop lagi. Jari-jari saya melayang di atas keyboard, ragu. Lalu satu kalimat muncul di kepala saya, mengalir begitu saja: “Malam ini, saya tidak lagi hanya seorang pria yang lari dari Amsterdam; saya adalah seorang lelaki yang, untuk pertama kalinya setelah semuanya hancur, kembali merasakan bahwa dunia di luar dirinya masih hangat.”

    Saya mengetik kalimat itu ke dalam draf baru di blog. Saya belum menerbitkannya, tapi saya tahu, ini akan menjadi bagian dari rangkaian kisah saya di sini. Pelarian ini pelan-pelan berubah bentuk menjadi perjalanan. Rasa pedas nasi goreng, tawa anak kecil bernama Rizki, dan kalimat sederhana “banyak teman di Jakarta” menjadi kompas emosional pertama saya di kota ini.

    Di catatan saya berikutnya, saya ingin menggali lebih dalam tentang pelajaran kecil yang saya dapat dari malam pertama ini: bahwa kadang, transformasi tidak datang lewat momen spektakuler, melainkan dari piring nasi sederhana dan kalimat lugu seorang anak jalanan.

    Sebelum tidur, saya berdiri sebentar di depan jendela, menatap lautan lampu dan lalu lintas yang tak pernah berhenti. Dada saya masih sakit, tapi kini ada sesuatu yang lain menyelinap di sela-sela rasa perih itu: sejenis kehangatan samar yang belum berani saya sebut harapan. Saya menutup mata dan, untuk pertama kalinya sejak semua runtuh, saya berbisik pada diri sendiri:

    “Besok, saya akan keluar lagi. Saya akan melihat lebih banyak. Saya akan memberi kesempatan pada Jakarta untuk menyentuh saya lebih dalam.”

    Kejutan Malam itu mungkin kecil di mata dunia, tapi bagi saya, itu adalah tiga momen yang perlahan merekatkan kembali serpihan jiwa yang berserakan.

    Leave a Reply

    7 mins