seanharrisonblog.com – Orbit Diri adalah kelanjutan senyap dari Gravitasi Sunyi kemarin, tapi energi di dada saya berbeda: bukan lagi sekadar tarikan halus yang menggeser, melainkan kesadaran baru bahwa saya punya pusat rotasi sendiri. Kalau kemarin saya menggambar peta orbit di kertas, hari ini saya mulai mengujinya di dunia nyata—di antara notifikasi, tatapan orang, dan getaran halus ketakutan lama yang masih suka datang tanpa permisi.
Di Hari Ke-18, saya belajar berhenti menggantungkan harga diri pada kecepatan balasan chat. Saya belajar duduk bersama jeda, bersama rasa takut tidak dipilih, tanpa melarikan diri ke percakapan lain. Malamnya, saya menggambar orbit: saya di pusat; keluarga, sahabat, kenalan, dan dia di lingkar-lingkar yang berbeda. Hari ini, Hari Ke-19, peta itu bukan lagi sekadar gambar—ia menjadi eksperimen hidup: apakah saya benar-benar berani tinggal di pusat diri, atau saya hanya pandai menulis metafora?
Momen 1: Pagi Hari Saat Orbit Diuji oleh Cermin
Pagi Hari Ke-19 membuka mata saya dengan cara yang pelan tapi tegas. Tidak ada pesan baru darinya ketika saya membalik ponsel—dan tubuh saya tidak panik. Itu sudah kemajuan. Tapi ujian hari ini datang dari arah lain: dari cermin di kamar mandi.
Saya berdiri menatap pantulan wajah saya. Kantung mata yang tidak sepenuhnya hilang, garis-garis halus di sudut bibir, rambut yang sedikit berantakan. Dulu, setiap kali saya merasa tidak cukup dicari, saya akan bersekutu dengan cermin untuk menguatkan vonis: “Lihat? Wajar kalau kamu tidak dipilih.”
Kali ini, saya mencoba sesuatu yang lain. Saya menatap mata saya lebih lama, melewati kritik dangkal tentang fisik, menembus ke sesuatu yang lebih dalam: kelelahan emosional bertahun-tahun karena terus-menerus menjadikan diri saya satelit bagi orang lain.
Saya berbisik pelan pada pantulan itu, hampir malu mendengar suara sendiri:
“Kalau hari ini nggak ada satu pun orang yang mencariku, apakah aku tetap layak dipandang dengan lembut oleh diriku sendiri?”
Rasanya asing, seperti mengucapkan mantra dalam bahasa yang baru dipelajari. Tenggorokan saya menegang, dada saya terasa hangat sekaligus perih. Namun di sela rasa tidak nyaman itu, muncul getaran halus: rasa kasihan yang bukan merendahkan, tapi melindungi.
Saya mengingat kembali peta orbit yang saya gambar semalam. Di pusat, saya tulis: “Aku” dengan garis tebal. Tapi sejujurnya, selama ini, saya jarang benar-benar menatap “Aku” itu dengan kasih. Saya hanya menatapnya sebagai proyek perbaikan tanpa akhir: harus lebih produktif, lebih menarik, lebih responsif, lebih segalanya.
Pagi ini, di depan cermin, Orbit Diri saya mulai terkoreksi. Saya menyentuh dada dengan jari, merasakan detak pelan yang sering saya abaikan karena lebih sibuk mengecek typing… orang lain.
“Kalau pun nggak ada yang datang hari ini, aku janji aku tetap tinggal.”
Janji itu sederhana, tapi efeknya terasa seperti gempa halus yang menggeser fondasi lama. Saya menggosok gigi, mencuci wajah, menata rambut, bukan sebagai persiapan tampil di hadapan dunia, tapi sebagai bentuk menghormati tubuh yang selama ini saya paksa mengikuti ritme orang lain. Untuk pertama kalinya, rutinitas pagi terasa seperti ritual penyambutan: saya menyambut diri saya sendiri ke Hari Ke-19.
Momen 2: Siang yang Penuh Trigger, tapi Orbit Tetap Tegak
Menjelang siang, dunia digital mulai riuh. Grup kerja lebih aktif dari biasanya, notifikasi media sosial berdering karena sebuah postingan lama tiba-tiba ramai lagi. Di antara semua itu, ada satu hal yang dulu bisa menghancurkan mood saya seharian: status online dan last seen orang-orang yang saya pedulikan, yang tidak mengirim apa pun pada saya.
Saya membuka aplikasi chat untuk urusan pekerjaan, dan mata saya hampir secara refleks turun ke bawah, mencari namanya. Online satu jam yang lalu. Tidak ada pesan baru untuk saya sejak balasan hangat kemarin sore.
Versi lama saya akan langsung menarik kesimpulan: “Jadi kamu sempat online, tapi nggak sempat kirim apa pun ke aku.” Dari situ, spiralnya mudah ditebak: merasa tidak penting, menulis paragraf panjang yang terlalu intens, atau sebaliknya—mendadak dingin dan menarik diri sebagai bentuk protes sunyi.
Namun Gravitasi Sunyi kemarin telah menggeser sesuatu. Saya berhenti sejenak, menatap nama itu di layar, lalu mengalihkan pandang ke jendela. Di luar, matahari siang menggantung tanpa cemas. Ia tidak menuntut setiap orang menatapnya terus-menerus untuk merasa berharga. Ia hanya bersinar, memberi cahaya, lalu membiarkan orang bebas memilih: mau berlindung di bawah bayang, atau berdiri langsung di bawah panasnya.
Saya tersenyum getir pada analogi itu, tapi juga merasa diterangi olehnya. Orbit Diri bukan tentang memastikan semua orang mengitari saya; ini tentang keberanian untuk tetap berputar di jalur saya, meski kadang orang yang saya harapkan hadir memilih menjauh sedikit, atau berhenti sejenak.
Saya menutup aplikasi chat dan membuka dokumen kerja yang tertunda. Tangan saya sudah hampir refleks membuka tab lain, mencari pelarian: media sosial, video pendek, apapun yang bisa menenggelamkan ketidaknyamanan. Tapi saya berhenti di tengah gerakan itu dan berbisik dalam hati:
“Aku nggak lagi mau jadi pelarian buat diriku sendiri.”
Kalimat itu menampar lembut. Selama ini, saya sering mengeluh dijadikan pelarian oleh orang lain—mereka datang saat sepi, lalu menghilang saat dunia mereka kembali ramai. Tapi saya lupa bahwa saya pun melakukan hal yang sama pada diri sendiri: saya melarikan diri dari rasa sepi saya, dari ketakutan saya, dari tubuh saya, dengan menenggelamkan diri di dunia digital.
Siang itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dulu terasa mewah: istirahat singkat yang benar-benar hadir. Saya menutup laptop, merebahkan tubuh di lantai dengan alas karpet tipis, meletakkan satu tangan di dada dan satu di perut. Menarik napas pelan, menghitung sampai empat, menahan sebentar, lalu menghembuskan sampai enam.
Sambil berbaring, saya teringat tulisan saya tentang Ritme Sunyi dan Ruang Pemulihan. Dulu, keduanya saya tulis dengan semangat menemukan jeda dari dunia luar. Hari ini, jeda itu terasa naik level: bukan hanya melarikan diri dari kebisingan, tapi kembali ke sumbu saya sendiri.
Di tengah keheningan lantai dan suara kipas angin, muncul kalimat baru di kepala saya:
“Aku bukan lagi satelit yang panik mencari planet untuk mengorbit. Aku planet kecil yang sedang belajar puas dengan rotasi dan revolusiku sendiri.”
Kalimat itu menenangkan. Saya membuka mata, menatap langit-langit, dan untuk sesaat, rasa takut tidak dipilih mereda. Bukan karena ada yang tiba-tiba menghubungi, tapi karena saya memilih untuk memilih diri saya sendiri dulu.
Momen 3: Senja Tanpa Kepastian, tapi Penuh Koneksi Jiwa
Senja datang pelan, menumpahkan warna keemasan di dinding kamar. Saya duduk di dekat jendela, membawa jurnal dan pena. Ponsel saya tergeletak di meja, layar menghadap ke bawah—posisi yang dulu memicu kegelisahan, tapi sekarang justru terasa seperti pernyataan sikap.
Sampai titik itu, belum ada pesan baru darinya. Anehnya, dada saya tidak sesak. Ada rindu tipis, tentu, ada keinginan untuk mengirim sesuatu—mungkin foto langit senja atau kalimat pendek tentang hari ini. Tapi di balik semua itu, ada suara baru yang lebih kuat:
“Tulis dulu untuk dirimu, sebelum menulis untuk mereka.”
Saya membuka jurnal dan menulis:
“Hari Ke-19, 17.42
Hari ini aku sadar, Orbit Diri bukan soal mengurangi orang di sekelilingku, tapi mengubah cara aku menempatkan mereka. Dulu, setiap orang yang memberi sedikit perhatian langsung kutarik mendekat ke orbit terdekat, lalu aku kecewa ketika mereka tidak sanggup bertahan di sana. Sekarang, aku belajar: nggak semua orang harus dekat, nggak semua hubungan perlu diintensifkan sampai meledak. Ada yang cukup di orbit jauh, tapi tetap hangat. Ada yang hanya melewati langitku sekali, lalu pergi, dan itu bukan bukti aku tak layak—hanya bukti bahwa lintasan kami berbeda.”
Menulis itu, saya merasakan campuran antara kehilangan dan kebebasan. Kehilangan karena harus rela menerima bahwa beberapa orang mungkin tidak akan pernah sedekat yang saya harapkan. Kebebasan karena saya tidak lagi memaksa mereka menempati ruang yang seharusnya disimpan untuk saya sendiri.
Selesai menulis, saya menutup jurnal. Tepat saat itu, ponsel saya bergetar pelan. Saya menoleh, menatapnya seperti menatap pintu yang diketuk. Kali ini, saya tidak lompat berdiri. Saya menarik satu napas penuh dulu, menegakkan punggung, lalu baru meraih ponsel.
Pesan darinya.
“Hari kamu gimana hari ini? Entah kenapa, aku keinget gambar orbit yang kamu ceritain kemarin. Aku lagi mikir, mungkin aku juga perlu bikin peta kayak gitu, soalnya selama ini aku ngerasa hidupku kayak komet—muncul terang sebentar, terus menghilang lama. Mungkin aku juga perlu belajar jadi sesuatu yang punya pusat.”
Mata saya hangat. Bukan karena akhirnya dia menghubungi lagi, tapi karena kalimatnya menyentuh titik yang sama yang sedang saya hadapi: kebutuhan untuk punya pusat, bukan hanya lintasan dramatis.
Saya membuka jendela, membiarkan angin senja masuk, lalu menulis balasan pelan-pelan, dari tempat yang penuh, bukan lapar:
“Hari ini aku lagi belajar jadi planet kecil yang cukup dengan orbitnya sendiri. Kadang masih pengin jadi komet yang dilihat semua orang, sih, tapi capek juga kalau hidup cuma di momen spektakuler. Kalau kamu mau, kita bisa sama-sama bikin peta. Nggak buat ngiket siapa-siapa, cuma buat ngingetin: kita nggak harus selalu melayang tanpa arah.”
Setelah menekan kirim, saya tidak menunggu balasan. Saya menatap langit yang mulai menggelap, merasakan tubuh saya duduk di kursi, kaki menyentuh lantai, napas naik turun perlahan. Di dada, ada sesuatu yang berubah wujud: dari ketergantungan menjadi Koneksi Jiwa—bukan hanya dengan dia, tapi dengan diri saya sendiri.
Malam nanti, saya tahu saya akan kembali ke jurnal dan mungkin menggambar ulang peta orbit itu, menambahkan garis-garis baru, merevisi jarak, menguatkan pusat. Tapi untuk sekarang, cukup bagi saya untuk mengakui satu hal:
“Hari Ke-19 layak diingat, bukan karena siapa yang menghubungi, tapi karena aku akhirnya mulai percaya bahwa aku pantas menjadi pusat di Orbit Diri-ku sendiri.”