seanharrisonblog.com – Ruang Sunyi di Hari Ke-10 tidak lagi terasa asing, tapi juga belum sepenuhnya menjadi rumah. Rasanya seperti kembali ke kos lama: aku hafal bentuk kamarnya, tapi masih kikuk setiap kali memutar kunci. Ada kedekatan, ada canggung, ada sejenis rasa was-was: apakah aku benar-benar akan bertahan di sini, atau ini cuma fase singkat sebelum aku kembali ke pola lama yang bising?
Kalau Hari Ke-9 adalah tentang tidak mengkhianati langkah kecil, maka Hari Ke-10 diam-diam hadir sebagai ujian berikutnya: berani hidup tanpa klimaks, tapi tetap menyalakan api di dalam dada. Bukan api yang membara karena sorotan, tapi api kecil yang dijaga dengan napas pendek, satu tiupan pelan setiap kali nyaris padam.
Pagi Hari Ke-10: Antara Kebiasaan dan Kesadaran
Alarm 05.30 kembali berteriak dengan nada yang sama. Bedanya, pagi ini tubuhku bangun lebih dulu daripada tawar-menawar di kepala. Tidak ada dialog panjang tentang “boleh skip sekali”. Yang muncul justru pertanyaan baru yang lebih tajam:
“Apakah aku bangun karena sudah terbiasa, atau karena masih sadar kenapa aku memulai ini?”
Saya duduk di tepi kasur, lantai dingin menyentuh telapak kaki seperti kemarin. Tapi rasa di dada berbeda. Hari Ke-9 meninggalkan jejak yang halus: semacam kepercayaan diri tipis bahwa saya mampu muncul, lagi dan lagi, bahkan ketika tidak ada yang menonton. Namun bersama rasa percaya itu, lahir juga satu bahaya baru: otomatisasi tanpa jiwa.
Saya menutup mata, menarik napas pelan, lalu membiarkan satu pertanyaan menggantung di ruang kepala:
“Untuk siapa aku bangun hari ini?”
Jawaban yang muncul tidak megah. Bukan untuk keluarga, bukan untuk masa depan, bukan untuk ambisi besar. Hanya satu kalimat pendek: “Untuk tidak kehilangan diriku sendiri lagi.”
Di titik itu, Ruang Sunyi menjelma bukan hanya sebagai tempat, tapi sebagai kompas batin. Saya bangun, bukan sekadar demi konsistensi, tapi demi mengingat arah.
Tujuh Momen Mendalam di Ruang Sunyi Hari Ke-10
Jika kemarin ada tiga jejak, maka Hari Ke-10 menyajikan tujuh momen kecil yang menampar, memeluk, lalu merombak cara saya memandang diri sendiri. Tidak spektakuler, tapi menggetarkan dengan cara yang lebih dalam, lebih pelan.
1. Momen Pertama: Ketika Jurnal Hampir Menjadi Formalitas
Di meja kerja, buku jurnal sudah terbuka sebelum saya duduk. Pena tergeletak di atas halaman kosong, seolah tahu giliran berikutnya. Tangan saya bergerak otomatis: tanggal, jam, lalu kalimat pembuka klise yang nyaris saya tulis tanpa pikir.
Tapi sebelum tinta menyentuh kertas, saya tersadar: aku hampir menipu diriku sendiri. Bukan dengan kebohongan besar, tapi dengan menulis dari kebiasaan, bukan dari kejujuran.
Saya berhenti. Menatap halaman kosong itu seperti menatap cermin yang tidak mau diajak pura-pura. Lalu saya coret pelan kata pembuka yang setengah jadi dan menggantinya dengan kalimat yang lebih telanjang:
“Aku takut menulis jujur hari ini, karena aku takut menyadari kalau aku mulai lelah.”
Dengan kalimat itu, Ruang Sunyi membukakan pintu lain: pintu di mana kelelahan tidak lagi dipoles menjadi motivasi palsu, tapi diakui apa adanya. Rasanya menyesakkan sekaligus melegakan.
2. Momen Kedua: Menyadari Ketagihan akan Pujian yang Tidak Ada
Selesai menulis beberapa halaman, satu dorongan refleks muncul: keinginan memotret potongan kalimat, mengeditnya sedikit, lalu membayangkan mengunggahnya sebagai quote puitis. Padahal, saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa tidak semua napas perlu direkam.
Di kepala, adegan imajiner bergulir: komentar, like, dan orang-orang yang berkata, “Kamu dalam sekali.” Saat itu, saya menangkap kelemahan telanjang: bahkan di Ruang Sunyi, ego saya masih berusaha menyelinap lewat pintu belakang.
Saya menutup jurnal, menaruh ponsel jauh dari jangkauan, lalu berkata pelan:
“Tidak hari ini. Hari ini, aku menulis hanya untuk aku yang duduk di sini.”
Rasanya seperti menolak candu yang tidak terlihat. Tidak ada yang tahu saya menang, tapi saya merasakan kemenangan itu bergetar di dalam dada.
3. Momen Ketiga: Menghadapi Pantulan Diri yang Lama di Cermin
Saat hendak mandi, saya berhenti sejenak di depan cermin kamar mandi. Bukan untuk glow up, bukan untuk mengafirmasi diri dengan kalimat motivasi, tapi hanya… menatap. Wajah yang sama, mata yang sama, lingkar hitam yang sama. Tapi kali ini, saya tidak berpura-pura kuat.
Saya berbisik ke pantulan saya sendiri:
“Kita sudah lama tidak benar-benar saling encar, ya?”
Tiba-tiba, kilasan-kilasan Hari Ke-4, janji kecil, dan keberanian mengirim email di Hari Ke-9 muncul beruntun. Saya melihat bukan hanya kelelahan, tapi juga jejak orang yang mencoba lagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tidak mengkritik apa pun yang ada di cermin. Saya hanya mengakui:
“Kalau kamu tetap di sini, bangun setiap pagi, itu sudah cukup heroik untuk saat ini.”
4. Momen Keempat: Godaan Menjadikan Rutinitas Sebagai Alat Menghindar
Menjelang siang, saya membuka daftar to-do. Ada beberapa tugas kerja, beberapa ide untuk proyek “12 Bulan Menuju Lompat”, dan satu hal yang sengaja terus saya tunda: percakapan sulit yang harus saya mulai dengan seseorang yang pernah saya kecewakan.
Refleks lama muncul: “Fokus saja ke kerjaan, produktif dulu. Urusan hati nanti.” Rutinitas tampak mulia, tapi saya tahu betul: saya sedang bersembunyi di balik kesibukan.
Ruang Sunyi menelanjangi niat saya. Saya sadar, saya bisa saja menulis, mengerjakan banyak hal, lalu mengklaim kemenangan hari ini tanpa menyentuh percakapan itu. Tapi bukankah perjalanan ini tentang kejujuran radikal?
Saya menarik napas panjang, menulis satu kalimat pendek di jurnal:
“Hari Ke-10, saatnya berhenti memakai produktivitas sebagai topeng.”
Kemudian, saya mulai menyusun draf pesan, tangan sedikit gemetar. Tidak dramatis. Hanya sebuah “Maaf, boleh kita bicara?”. Tapi di balik tujuh kata itu, ada ketundukan ego yang selama ini menganggap diri selalu benar.
5. Momen Kelima: Saat Jawaban Tidak Segera Datang
Pesan terkirim. Centang dua, tapi abu-abu. Tidak ada balasan selama beberapa jam. Di tengah menulis dan bekerja, saya mendapati diri saya terus-terusan melirik ponsel, menunggu konfirmasi bahwa keberanian saya dihargai.
Tidak ada yang datang.
Di sela kegelisahan itu, Ruang Sunyi kembali mengajar pelan: tidak semua keberanian akan langsung diberi hadiah. Beberapa hanya akan meninggalkan kita dengan keheningan panjang, dan tugas kita adalah bertahan di dalamnya.
Saya meletakkan ponsel terbalik, dan memaksa diri kembali ke napas. Saya menulis:
“Keberanian hari ini bukan tentang balasan, tapi tentang berani mengakui luka yang pernah kubuat.”
Rasanya getir, tapi juga memerdekakan.
6. Momen Keenam: Koneksi Sunyi dengan Diri Masa Depan
Sore hari, cahaya kembali masuk serong dari jendela, mengingatkan saya pada momen di Hari Ke-9 saat saya duduk tanpa ponsel, tanpa konten. Bedanya, hari ini saya membawa satu kertas kosong dan menulis judul di atasnya:
“Untuk Aku di Hari Ke-100.”
Saya tidak tahu apakah saya akan sampai ke sana. Tapi saya menulis seolah-olah saya pasti akan bertemu diri saya yang lebih jauh itu. Bukan sebagai sosok yang lebih sukses, tapi sebagai sosok yang tetap setia muncul di Ruang Sunyi.
Saya menuliskan tiga hal yang ingin saya katakan padanya:
“1. Kalau kamu masih di sini, terima kasih sudah tidak lari.
2. Kalau kamu sempat jatuh dan berhenti di tengah, tapi kembali lagi, itu pun sudah cukup berani.
3. Kalau kamu lupa kenapa kamu memulai, ingat Hari Ke-9 dan Ke-10: hari ketika tidak ada yang spektakuler, tapi kamu memilih tetap hadir.”
Kertas itu saya lipat dan selipkan di antara halaman jurnal, seperti surat rahasia yang hanya kami berdua yang tahu. Ada semacam koneksi jiwa melintasi waktu yang sulit dijelaskan, tapi terasa nyata.
7. Momen Ketujuh: Malam yang Tidak Butuh Penutup Indah
Malam turun lagi, suara kendaraan di luar tetap sama, lampu kamar tetap kuning pucat. Saya kembali membuka jurnal, seperti ritual kecil yang mulai menenangkan. Tapi malam ini, saya tidak mencari kalimat penutup yang puitis.
Saya menulis apa adanya:
“Hari Ke-10, 22.18
Aku lelah. Aku tidak heroik hari ini. Tapi aku jujur, dan aku muncul. Kalau ini yang disebut perjalanan, maka mungkin inilah pertama kalinya aku benar-benar berjalan, bukan berlari hanya untuk pingsan di tengah.”
Sebelum menutup buku, saya menambahkan satu catatan singkat untuk besok:
“Tugas Hari Ke-11: Hadir lagi. Tanpa janji akan menjadi luar biasa, tanpa tuntutan menghasilkan sesuatu yang mengesankan. Hanya hadir, mendengar napas, lalu memilih satu langkah kecil yang jujur.”
Saya mematikan lampu. Gelap kembali menyelimuti, tapi kali ini, Ruang Sunyi tidak terasa seseram dulu. Ia lebih mirip studio latihan abadi, tempat saya belajar menjadi manusia yang utuh, bukan hanya versi yang layak ditampilkan.
Di balik kelopak mata yang berat, saya tahu Hari Ke-11 tidak akan datang dengan janji spektakuler. Tapi mungkin justru di situlah kekuatan perjalanan ini: ia tumbuh di halaman-halaman biasa, lewat keputusan-keputusan sepi yang tidak memerlukan tepuk tangan, hanya memerlukan keberanian untuk tetap tinggal.
Ruang Sunyi Sebagai Rumah Permanen
Perlahan, saya mulai mengerti apa yang saya tulis di akhir Hari Ke-8 dan saya alami lagi di Hari Ke-9: bahwa Ruang Sunyi bukan tempat pelarian, bukan ruang karantina sementara dari dunia luar. Ia sedang bertransformasi menjadi rumah permanen batin, titik kembali setiap kali saya tersesat oleh sorakan, angka, dan sorotan.
Hari Ke-10 menambahkan satu lapisan baru: kesadaran bahwa rumah ini akan sering terlihat membosankan, datar, dan tidak layak dijadikan legenda. Tapi justru di situlah keajaiban paling tenang bekerja: di sela napas biasa, di antara pagi yang diulang-ulang, di bawah cahaya kuning yang tidak pernah viral.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, saya mengucapkan satu kalimat dalam hati, tanpa berharap ada yang mendengar selain saya sendiri:
“Kalau memang sebagian besar hidup adalah Ruang Sunyi, maka aku memilih untuk tinggal, belajar, dan pulang ke sini—lagi dan lagi.”