Visualisasi artistik dari Jam Batin sebagai sosok yang berhenti di bawah lampu jalan, seolah berada di antara hidup lama dan hidup baru
  • Business
  • Jam Batin: 7 Isyarat Mengharukan Menuju Lompat

    seanharrisonblog.comJam Batin mulai terdengar lebih kencang sejak tiga detik itu. Bukan dalam bentuk suara dramatis yang meneriakkan, “Cepat keluar sekarang juga,” tapi seperti detak halus di balik setiap keputusan kecil: menunda satu rapat, menolak satu proyek, atau membiarkan satu kejujuran lolos dari filter basa-basi. Sejak saya membalik jam pasir 12 bulan itu, waktu tak lagi terasa datar; ia punya tekstur, punya arah, dan yang paling mengganggu—ia punya keberanian yang pelan-pelan menagih utang.

    Saya menyadari bahwa yang berubah bukan hanya rencana, tapi seluruh sistem saraf saya. Ada semacam radar baru di dalam dada, yang tiap hari bertanya: “Apakah hari ini kamu lebih dekat ke Rumah Dalam, atau hanya makin pintar menyusun alasan untuk menundanya?” Jam Batin itu tidak berisik, tapi ia konsisten. Dan konsistensi, saya pelajari, lebih berbahaya daripada ledakan sesaat.

    Jam Batin di Antara Kalender dan Dada

    Kalender dinding di kamar masih sama: kotak-kotak putih dengan angka hitam, akhir pekan disorot tipis dengan stabilo kusam. Tapi di mata saya, sekarang ia seperti peta rahasia. Setiap kotak bukan lagi sekadar tanggal; ia adalah ruang di mana saya harus memilih: membangun dunia baru, atau memberi makan dunia lama yang sudah tidak ingin saya tinggali.

    Di salah satu malam yang terlalu sunyi, saya membuka lagi tulisan-tulisan lama di Transformasi Sunyi dan Batas Emosional. Ada pola yang tiba-tiba tampak jelas: setiap lompatan besar dalam hidup saya selalu didahului oleh periode panjang di mana Jam Batin mengetuk tanpa henti, dan saya pura-pura tuli.

    Kali ini, saya memutuskan untuk tidak pura-pura tuli. Kalau dulu saya menulis sebagai saksi yang terlambat, sekarang saya ingin menulis dari tengah medan, saat debu masih beterbangan dan keputusan belum seratus persen aman. Mungkin ini yang disebut dewasa: bukan berhenti takut, tapi berhenti menjadikan takut sebagai atasan tertinggi.

    7 Isyarat Mengharukan dari Jam Batin

    1. Pagi yang Mendadak Terlalu Terang

    Isyarat pertama datang tanpa teks motivasi apa pun. Pagi itu, saya bangun sebelum alarm. Bukan karena cemas, tapi karena ada rasa ingin menyentuh hidup lebih cepat. Langit di luar jendela masih pucat, tapi rasanya seperti ada sorot lampu panggung yang diarahkan ke ranjang saya.

    Saya duduk di ujung ranjang, kaki menyentuh lantai dingin, lalu bertanya lagi pelan, “Hari ini, kamu mau takluk ke siapa?” Pertanyaan yang sama, tapi jawabannya berbeda. Biasanya saya hanya diam, membiarkan rutinitas menjawab. Pagi itu, untuk pertama kalinya saya menjawab dalam hati, tanpa ragu: “Ke Rumah Dalam.”

    Bukan berarti saya langsung menutup laptop kantor dan menghilang. Tapi saya mengambil satu keputusan kecil yang anehnya terasa monumental: saya memutuskan bahwa satu jam pertama setiap pagi adalah jam suci. Tidak untuk email, tidak untuk laporan, hanya untuk menulis dunia yang ingin saya tinggali.

    2. Email yang Tidak Lagi Bisa Ditunda

    Isyarat kedua muncul dalam bentuk inbox yang menumpuk. Ada satu email dari seorang teman lama, penulis lepas yang dulu sering saya kagumi diam-diam. Subjeknya sederhana: “Lo masih pengen nulis serius nggak?” Email itu sudah beberapa hari nongkrong tanpa saya balas, terkubur di antara notifikasi perusahaan.

    Sore itu, setelah satu rapat yang terasa seperti salinan dari sepuluh rapat sebelumnya, saya membuka email itu lagi. Ada kalimat yang menancap: “Gue lagi build tim kecil buat beberapa proyek tulisan jangka panjang. Kalau lo beneran mau geser hidup, mulai dari sini aja dulu. Nggak harus langsung resign.”

    Jam Batin berdegup pelan. Dulu, saya mungkin akan menjawab dengan kalimat aman: “Lagi sibuk banget, mungkin kapan-kapan.” Tapi kali ini, jemari saya seperti terhubung langsung ke Rumah Dalam. Tanpa terlalu banyak mikir, saya menulis: “Iya. Gue mau. Ajak gue, tapi sabar ya, gue lagi membereskan hidup pelan-pelan.”

    Saya menekan tombol kirim dengan tangan sedikit gemetar. Bukan karena takut ditolak, tapi karena sadar: untuk pertama kalinya, saya mengirim sinyal resmi ke semesta bahwa saya serius ingin menggeser orbit hidup saya.

    3. Rapat yang Tiba-Tiba Terasa Seperti Ruang Tunggu

    Beberapa hari setelahnya, saya duduk di satu rapat mingguan. Slide demi slide lewat dengan ritme yang sama: target, risiko, strategi, optimisasi. Dulu, ruangan seperti ini membuat saya merasa penting. Sekarang, saya hanya merasa seperti penumpang transit di bandara yang salah.

    Di tengah presentasi, seorang atasan berkata, “Kita semua ada di sini untuk jangka panjang. Ini maraton, bukan sprint.” Kalimat itu biasanya menguatkan saya. Tapi hari itu, tubuh saya merespons lain. Ada suara lembut di dalam kepala yang menjawab, “Maraton siapa? Ke mana?”

    Saya menatap wajah-wajah di layar: lelah, tapi bertahan. Lalu saya menatap wajah saya sendiri di kotak kecil sudut kanan bawah. Di sana, saya melihat seseorang yang separuh sudah berdiri di luar pintu, meski fisiknya masih duduk manis.

    Rapat itu resmi berubah fungsi: bukan lagi ruang pengambilan keputusan perusahaan, tapi ruang tunggu antara hidup lama dan hidup yang sedang saya bangun diam-diam.

    4. Spreadsheet yang Tiba-Tiba Menjadi Cermin

    Isyarat keempat datang malam hari, saat saya akhirnya memaksa diri membuka spreadsheet keuangan pribadi yang selama ini saya hindari. Saya menulis judul di atas: “12 Bulan Menuju Lompat.” Angka-angka yang biasanya membuat saya panik sekarang saya tatap seperti cermin: jujur, kadang kejam, tapi tidak pernah berniat menjatuhkan.

    Saya mulai menghitung: berapa tabungan darurat, berapa pengeluaran wajib, berapa yang bisa dilucuti tanpa menghancurkan martabat. Saya menyederhanakan kolom-kolom, memangkas langganan, menandai pengeluaran yang hanya berfungsi menghibur rasa kosong setelah jam kerja.

    Di sel lain, saya menulis sesuatu yang bukan angka: “Harga mengkhianati Rumah Dalam.” Saya tidak tahu bagaimana menghitungnya, tapi saya tahu: angka berapa pun di tabungan tidak akan cukup menebus rasa sesak kalau saya bertahan hanya karena takut miskin.

    5. Percakapan Kecil yang Membocorkan Rencana Besar

    Isyarat kelima datang dari arah yang tak saya duga: ibu saya. Suatu malam, kami mengobrol lewat telepon, obrolan standar soal kesehatan, cuaca, dan pekerjaan. Di tengah jeda, beliau bertanya santai, “Kamu betah nggak sih di kantor itu?”

    Saya terdiam sejenak. Biasanya, saya akan menjawab otomatis: “Betah kok, lumayan lah.” Tapi malam itu, kejujuran saya mendahului sopan santun. Pelan, saya berkata, “Aku capek, Bu. Bukan cuma capek kerja, tapi capek pura-pura ini satu-satunya cara hidup.”

    Hening di ujung sana, lalu suara yang saya kenal sejak kecil menjawab pelan, “Ibu nggak mau kamu sakit hati sama hidupmu sendiri. Kalau kamu harus mulai lagi dari nol, mulai aja. Ibu nggak butuh kamu kelihatan keren, Ibu cuma butuh kamu pulang ke rumahmu sendiri.”

    Rumah Dalam di dada saya bergetar. Selama ini saya takut mengecewakan banyak orang kalau saya keluar. Malam itu, satu-satunya orang yang paling saya takuti untuk kecewakan justru memberi restu tanpa saya minta.

    6. Malam Ketika Tulisan Kembali Menyala

    Isyarat keenam muncul di layar laptop yang sama yang saya pakai untuk kerja kantor. Bedanya, kali ini jendelanya bukan spreadsheet atau slide, tapi dokumen kosong dengan kursor berkedip. Saya menulis tanpa rencana outline, hanya mengikuti arus kata yang mengalir.

    Dua jam lewat tanpa saya sadari. Ketika saya berhenti, halaman itu sudah penuh dengan pengakuan: tentang Batas Emosional, tentang tiga detik yang mengubah arah, tentang Jam Batin yang pelan-pelan memaksa saya jujur. Tulisan itu bukan untuk dipublikasikan, setidaknya belum. Tapi ia mengisi ruangan dengan kehangatan yang sudah lama tidak saya rasakan dari pekerjaan apa pun.

    Saya membaca ulang beberapa paragraf dan menangis pelan, bukan karena sedih, tapi karena lega. Di halaman itu, saya melihat versi diri yang selama ini saya kurung di balik KPI dan title pekerjaan. Malam itu, untuk pertama kali dalam waktu yang lama, saya merasa benar-benar hidup—meski besok paginya saya tetap harus buka laptop kantor seperti biasa.

    7. Kesadaran Mengejutkan: Lompat Itu Sudah Dimulai

    Isyarat ketujuh tidak datang sebagai kejadian besar, tapi sebagai kesadaran yang pelan-pelan mengisi ruang dada seperti cahaya subuh. Saya sedang berjalan pulang, headphone menyala, kota berisik seperti biasa. Tiba-tiba, kalimat ini muncul di kepala saya, jelas sekali: “Kamu kira kamu belum melompat. Padahal, kamu sudah di udara sejak hari kamu berani membalik jam pasir itu.”

    Saya berhenti di trotoar, menatap lampu jalan yang kuning pucat. Selama ini saya menunggu momen epik: surat resign, pintu kantor tertutup terakhir kali, foto meja kerja kosong. Tapi Jam Batin mengajari saya sesuatu yang lebih halus: lompatan jarang dimulai di email resmi. Ia dimulai di titik ketika jiwa berhenti mau dinegosiasikan.

    Di sana, di tengah bising kendaraan, saya tersenyum sendiri. Saya belum tahu tanggal pasti saya akan keluar. Kontrak masih berjalan, tugas masih harus dituntaskan. Tapi satu hal berubah total: saya tidak lagi melihat diri saya sebagai karyawan yang “berniat suatu hari nanti keluar”. Saya melihat diri saya sebagai seseorang yang sedang dalam proses pulang, yang kebetulan masih menitipkan tubuhnya di gedung kantor untuk sementara.

    Jam Batin Sebagai Kompas Pulang

    Sejak hari itu, setiap detik terasa seperti bagian dari perjalanan, bukan lagi jeda yang harus saya tahan sambil meratapi nasib. Saya mulai menata jadwal dengan berani: memindahkan energi terbaik ke proyek yang dekat dengan Rumah Dalam, dan memberikan sisa yang wajar—bukan nyawa penuh—untuk pekerjaan yang sebentar lagi akan saya tinggalkan dengan hormat.

    Jam Batin kini bukan lagi ancaman yang menghantui di malam-malam cemas, melainkan kompas yang terus berputar mengarah ke satu kata sederhana: pulang. Pulang bukan ke alamat fisik, tapi ke hidup yang saya sanggupi sepenuh hati, bukan hidup yang saya jalani hanya karena takut kehilangan gaji.

    Saya belum tahu bagaimana bab berikutnya akan terlihat. Mungkin akan ada panik, mungkin akan ada saldo rekening yang menipis, mungkin akan ada malam-malam ketika saya merindukan kenyamanan stabil yang dulu saya keluhkan. Tapi di antara semua kemungkinan itu, ada satu kepastian yang sekarang saya genggam lebih erat daripada kontrak apa pun: saya tidak lagi bersedia hidup melawan Jam Batin saya sendiri.

    Dan kalau suatu hari nanti saya benar-benar mengirim email resign itu, saya tahu saya tidak akan menulisnya sebagai kalimat pertama. Itu hanya akan menjadi titik koma dari kisah yang sudah lama mulai: kisah seorang diri yang akhirnya memilih untuk percaya pada Rumah Dalam yang tak pernah lelah memanggil pulang.

    Leave a Reply

    8 mins