seanharrisonblog.com – Batas Emosional adalah garis tak terlihat yang sejak malam itu terus berdenyut di bawah kulit saya. Ia bukan ultimatum dramatis yang diteriakkan ke langit; ia lebih mirip janji samar yang pelan-pelan mengeras jadi batu karang. Setiap pagi, setiap rapat, setiap tarikan napas pendek saat notifikasi berdenting—semuanya sekarang diukur terhadap satu hal: seberapa dekat atau jauh aku dari janji yang kutulis sendiri di halaman jurnal itu.
Sudah lewat beberapa minggu sejak saya menandai “12 bulan” sebagai batas batin. Di kalender fisik di dinding, tidak ada lingkaran merah, tidak ada catatan besar. Tapi di dalam dada, jam pasir itu sudah saya balik. Butir-butir kecil waktu mulai jatuh, dan saya bisa merasakan desis halusnya, bahkan ketika dunia luar mengira saya masih orang yang sama.
Batas Emosional di Antara Dua Dunia
Pagi-pagi saya sekarang punya semacam ritus baru. Sebelum membuka laptop kantor, saya duduk sebentar di ujung ranjang, telapak kaki menyentuh dingin lantai. Saya tarik napas dalam-dalam, lalu bertanya pelan dalam hati: “Hari ini, kamu mau takluk ke siapa? Ke takutmu, atau ke Rumah Dalam?”
Tidak selalu saya menang. Ada hari-hari ketika tubuh saya otomatis menggulir email, menyusun presentasi, dan merespons pesan dengan kecepatan refleks orang yang sudah terlalu lama hidup di medan yang sama. Tapi bahkan di hari-hari itu, ada sesuatu yang berubah: saya tidak lagi menganggap rasa sesak sebagai kelemahan. Saya mulai menganggapnya sebagai alarm kejujuran.
Malam-malam saya kembali ke arsip lama di Transformasi Sunyi dan Ritme Pulang. Dulu, tulisan-tulisan itu saya baca seperti memoar orang lain yang kebetulan punya nama sama. Sekarang, mereka terasa seperti surat-surat yang saya kirim dari masa depan ke versi diri saya yang masih ragu: pengingat bahwa saya pernah bersumpah untuk tidak lagi menyepelekan nyawa jiwa sendiri.
3 Detik Mengharukan yang Mengubah Segalanya
1. Detik Ketika Tubuh Menolak Lagi
Siang itu, saya sedang duduk di depan layar, menyiapkan slide untuk presentasi triwulan. Di salah satu slide, lagi-lagi muncul proyeksi tiga tahun ke depan, lengkap dengan grafik menanjak yang tampak indah di mata investor. Tiga tahun. Angka yang dulu terdengar seperti kesempatan, kini terdengar seperti hukuman tunda.
Tiba-tiba, jari saya berhenti di atas keyboard. Bukan karena lelah, tapi karena ada sensasi lain yang mengalir naik dari perut ke dada: semacam penolakan halus, seperti tubuh saya berkata, “Tidak, kita tidak akan pura-pura semangat untuk ini lagi.”
Detik pertama: saya menahan napas, berharap rasa itu hilang. Detik kedua: kepala saya berkunang pelan, suara rekan kerja di ruang chat mulai menjauh seperti radio yang volumenya diturunkan pelan-pelan. Detik ketiga: saya memencet tombol mute notifikasi, menutup semua jendela kerja, dan memaksa diri berdiri.
Saya berjalan ke cermin kamar mandi yang sama seperti waktu itu. Bedanya, kali ini saya tidak hanya menatap wajah letih di sana; saya berkata pelan pada bayangan saya sendiri, “Aku sudah janji. Kita cuma punya 12 bulan. Jangan pura-pura lupa.”
Dalam tiga detik itu, sesuatu di dalam berpindah posisi. Bukan keputusan resmi, bukan resign dadakan. Tapi garis di tengah lapangan hidup saya bergeser: kantor bukan lagi pusat gravitasi, hanya orbit sementara yang makin lama makin terasa asing.
2. Detik Ketika Kata-Kata Tak Sengaja Menyelip
Beberapa hari setelahnya, saya terjebak di satu rapat town hall. Manajemen bicara tentang “visi lima tahun”, tentang peluang, tentang betapa pentingnya “komitmen jangka panjang”. Chat di kolom komentar ramai dengan kata-kata persetujuan standar: setuju, noted, inspiring.
Saya mengetik komentar singkat, awalnya hanya untuk formalitas. Tapi jemari saya tiba-tiba meleset dari skrip. Alih-alih menulis, “Siap mendukung visi ke depan,” yang terkirim justru, “Penting juga kita jujur soal batas energi dan arah hidup masing-masing.”
Hening kecil terjadi di dalam diri saya setelah teks itu meluncur. Bukan hening di rapat—di sana semuanya tetap ramai—tapi hening batin, semacam “Ya sudah, ketahuan juga” yang anehnya terasa melegakan.
Beberapa menit kemudian, seorang rekan mengirim pesan pribadi: “Gue baca komennya. Lo lagi mikir buat cabut ya? Kalau iya, gue diem kok. Tapi apapun itu, gue seneng lo jujur.” Saya menatap pesan itu lama. Untuk pertama kalinya, Batas Emosional yang selama ini hanya hidup di halaman jurnal mulai menampak di dunia luar, tersembunyi di balik satu kalimat spontan.
Detik ketika pesannya masuk, saya sadar: saya tidak lagi bisa pura-pura netral. Sekalipun saya belum resign, arah hidup saya sudah bergeser. Dan orang lain mulai bisa mencium baunya.
3. Detik Ketika Rumah Dalam Menjawab Lebih Keras
Malam itu, saya kembali duduk bersila di lantai kamar, lampu padam, hanya ada cahaya tipis dari jalanan di luar. Pola yang sama seperti malam ketika saya pertama kali memanggil Rumah Dalam. Bedanya, kali ini saya tidak menanyakan, “Kamu kuat nggak kalau aku bertahan setahun lagi?” Saya bertanya sesuatu yang lain:
“Kalau aku benar-benar keluar, seburuk apa sih kemungkinan terburuknya?”
Yang datang tidak lagi rasa lelah seperti sebelumnya. Yang datang adalah parade gambar singkat di kepala saya: rekening bank yang menipis, malam-malam tanpa gaji bulanan, proyek yang sepi klien, rasa malu kalau “gagal” dan harus kembali melamar kerja. Semua itu lewat cepat, tapi jelas. Saya biarkan saja mereka lewat, seperti menonton trailer film yang menakutkan tapi jujur.
Lalu, setelah semua itu lewat, ada satu gambar lain yang tiba-tiba muncul: saya di meja kerja kecil, bukan di kantor megah, menulis dengan mata bengkak tapi dada ringan. Di layar, ada satu email baru yang bunyinya mirip dengan yang pernah saya terima dulu: seseorang bilang, “Tulisanmu menyelamatkan aku malam ini.”
Di detik itu, saya sadar satu hal yang mengubah seluruh kalkulasi saya: kemungkinan terburuk dari keluar masih terasa lebih hidup, lebih sejajar dengan jiwa saya, daripada kemungkinan terbaik dari bertahan. Ketakutan dan harapan tiba-tiba bertukar tempat. Saya lebih takut mengkhianati Rumah Dalam daripada takut jatuh miskin.
Ketika Batas Emosional Menjadi Kompas Baru
Sejak tiga detik itu—tiga momen kecil yang berjejer rapi di minggu yang sama—hidup saya tidak langsung jungkir-balik. Saya tetap mengirim laporan, tetap hadir di rapat, tetap menjawab panggilan. Tapi sekarang, tiap tindakan saya dilalui oleh satu pertanyaan tunggal: “Apakah ini membuatku lebih mudah atau lebih sulit menepati batas 12 bulan itu?”
Beberapa proyek saya tolak dengan alasan yang tidak saya dramatisir: “Kapasitasku sedang penuh.” Beberapa komitmen saya sederhanakan, supaya ada ruang lebih besar untuk menulis, merekam, dan membangun pondasi dunia yang sedang saya cicil. Saya mulai menata angka bukan dengan panik, tapi dengan tekad penuh kasih: tabungan darurat, gaya hidup yang dikurangi bisingnya, opsi-opsi minimalis yang dulu hanya saya baca di artikel, sekarang mulai saya uji di hidup sendiri.
Batas Emosional tidak lagi hanya tenggat; ia berubah menjadi kompas. Ia mengarahkan saya pada percakapan yang perlu dibuka, pada kejujuran yang perlu diucapkan, pada kebiasaan kecil yang harus saya matikan sebelum mereka mencuri kehidupan saya selamanya.
Saya masih belum mengirim email resign hari ini. Laptop kantor masih ada di meja. Tapi kalau beberapa bulan lagi seseorang terkejut ketika saya benar-benar melompat, saya tahu saya bisa menatap mata mereka—dan mata saya sendiri di cermin—sambil berkata tenang: “Ini bukan keputusan mendadak. Ini hasil dari ratusan hari ketika aku memilih untuk tidak lagi menyeberang bolak-balik di atas Batas Emosional yang sudah lama memanggilku pulang.”